Masak, Macak, Manak: Sebuah Dekonstruksi Konsep dalam Budaya Jawa
Masak, macak, manak itu kodrat perempuan? Kata siapa? Kenapa?
“Omongan Begini Cuma Candaan Kita-Kita Doang, Kok”
Dari grup chat FH UI hingga pengalaman di SMA. Lelucon seksis di ruang privat menormalisasi kekerasan seksual. Kenapa institusi membiarkannya?
Narasi Kebebasan dan Privilege dalam Tren “First in My Bloodline”
Mengapa travel, serta without husband, meskipun terdengar sederhana, justru menjadi simbol emansipasi yang dirayakan secara serentak?
Perempuan adalah Tentang Apa yang Tak Terutarakan
Melalui refleksi personal dan puisi, Bonniela menghubungkan perkembangan kognitif dengan pengalaman sehari-hari perempuan yang pikiran dan gagasannya sering diabaikan sebelum sempat diutarakan.
Perempuan, Pilihan, dan Kebebasan dalam Cinta
Menikah dan punya anak bukan satu-satunya bentuk cinta. Sebuah refleksi tentang pekerjaan rumah tangga, kebebasan perempuan, dan cara mencintai tanpa kehilangan diri.
Siapa yang Boleh Bicarakan Politik di Meja Makan Lebaran?
Tidak semua orang memiliki posisi yang sama dalam percakapan politik. Politik membutuhkan ruang bicara, tetapi akses untuk masuk ke ruang itu sangat dipengaruhi oleh modal budaya yang tidak dimiliki secara merata. Ketika percakapan politik muncul di meja makan, tidak semua orang memiliki modal diskursif yang sama untuk terlibat di dalamnya.
Ketika Perempuan Muda Menopang tapi Tidak Diakui
Sekitar 14,37% pekerja perempuan di Indonesia menanggung ekonomi rumah tangga lebih dari anggota keluarga lain, hampir separuhnya menyumbang 90–100% pendapatan keluarga. Sistem kerja dan kebijakan sosial masih dirancang seolah pencari nafkah utama selalu laki-laki. Perempuan anak pertama yang menjadi tulang punggung keluarga menghadapi ketimpangan upah, parentifikasi, dan pengakuan yang terus ditunda.
Aku, Masyarakat, dan Menstruasi
Tulisan ini mengangkat pengalaman personal menghadapi menstruasi di tengah aktivitas sosial dan aksi lapangan, yang dipenuhi rasa khawatir, nyeri fisik, serta tekanan emosional. Masyarakat perlu memahami kompleksitas pengalaman menstruasi sekaligus pentingnya empati, apresiasi, dan upaya kolektif untuk mengurangi kekerasan berbasis gender.
Membaca Ulang Ophelia: Patah Hati dan Representasi Perempuan dari Shakespeare hingga Taylor Swift
Ophelia perlu dibaca ulang dan dipahami dengan cara yang lebih baik. Bukan sebagai kisah cinta yang gagal, melainkan sebagai bukti bagaimana sejarah sastra dan budaya merepresentasikan perempuan, terutama ketika berhadapan dengan kehilangan, kekecewaan, dan emosi.
Peran Perempuan dalam Perlindungan dan Pemanfaatan Ruang Laut
Pemberdayaan tidak pernah bergerak dalam satu jalur tunggal. Ia lahir dari berbagai ruang dan peran, bahkan dari tempat-tempat yang awalnya tidak pernah terbayangkan seperti laut.
Darurat Seblak!: Politik Tubuh Pedas, Performativitas Digital, dan Ruang Keintiman Vernakular Perempuan
Fenomena “darurat seblak” membuka pembahasan tentang politik tubuh, budaya digital, dan ruang keintiman perempuan muda. Dari TikTok hingga warung seblak, makanan pedas ini menjadi simbol agensi, solidaritas, dan negosiasi gender dalam kehidupan sehari-hari.
Kemarahan Ini Membebaskan: Refleksi Aksi 29 Agustus 2025 di Senayan
Mengikuti aksi sebagai tim medis membuka pengalaman baru tentang represi, solidaritas, dan pendidikan jalanan. Di balik gas air mata, tumbuh kesadaran bahwa perjuangan melawan penindasan tak bisa lagi ditunda.
Andai Aku Laki-laki: Refleksi Lagu "The Man" oleh Taylor Swift
Lewat “The Man”, Taylor Swift menyuarakan keresahan yang dekat dengan pengalaman perempuan muda. Lagu ini membuka ruang refleksi tentang bagaimana sistem sosial masih sering menempatkan perempuan di posisi tidak adil.
Respons atas Kebijakan Elit Politik yang Pongah: Marah dan Gundah Menyelimuti Perjalanan Aktivisme Perempuan
Kemarahan feminis lahir dari kesadaran akan ketidakadilan struktural dan patriarki dalam kebijakan negara, lalu diwujudkan lewat perjuangan kolektif dan pendidikan politik.
Gerakan Kekhawatiran terhadap RUU TNI dan Demokratisasi Gwangju 1980: Sebuah Refleksi Sejarah
Drama Korea Youth of May mengingatkan kita kalau demokrasi yang kita perjuangkan selama ini tidak boleh dikorbankan begitu saja. Karena itu, kita sebagai masyarakat harus terus bersuara, mengawal kebijakan, dan memastikan bahwa kekuasaan tetap berada di tangan rakyat, bukan di tangan yang dilindungi senjata.
Gandeng Gendong : Saling Merangkul Demi Kebebasan Berekspresi
Pondok Pesantren Waria Al-Fattah adalah ruang aman bagi waria muslim untuk beribadah dan belajar agama tanpa takut stigma. Pesantren ini menjadi simbol keteguhan hati dalam menghadapi diskriminasi dan memperjuangkan hak beribadah.
Etik, Hukum, dan Keberhasilan dalam Penanganan Kasus Kekerasan
Penegakan hukum dalam kasus kekerasan sering kali dipengaruhi oleh kekuasaan dan koneksi, menyebabkan banyak pelaku lolos dari hukuman. Penting bagi kita untuk menempatkan nilai etik di atas formalitas hukum, dengan mengedepankan kepedulian dan tanggung jawab bersama dalam melindungi korban.
Setiap Perempuan, Setiap Perjuangan : Menghidupi Feminisme yang Berdaya
Tulisan ini mendorong refleksi bersama agar gerakan dan kampanye kesetaraan gender tidak secara tidak sengaja menciptakan ketimpangan baru.
Cinta, Luka dan Kehilangan
Peran ayah dalam pengasuhan sangat penting di setiap tahap perkembangan anak, untuk mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang yang sejati.
Perebutan Teknologi oleh Perempuan
Bagaimana perempuan muda menggunakan teknologi dan media sosial untuk memberdayakan diri, menantang patriarki, dan membangun solidaritas? Artikel ini membahas strategi aktivisme perempuan muda dalam memanfaatkan ruang digital untuk menciptakan perubahan sosial melalui feminisme transnasional.