Sepenggal Kelamin
oleh Erwan Eka Syuhada
pucat,
dunia seringkali diringkas jadi urusan selangkangan—
seolah nasib bisa ditakar dari sana,
seolah martabat cuma seutas benang
yang gampang diputus oleh tangan-tangan kotor
mereka menenun moral seperti kain suci,
lalu pura-pura terkejut
saat satu helai ditarik paksa—
padahal yang merusak bukan benangnya,
melainkan jari-jari yang rakus merobeknya
di lorong malam yang pura-pura bisu,
ada pintu yang dibuka tanpa restu,
engselnya dipaksa lupa cara menolak
dunia menyebutnya “kejadian” –
kata yang dingin, ringan, cepat berlalu
seperti debu di atas meja berita
tapi bagi pemilik raga,
itu bukan waktu yang lewat—
itu runtuhnya bangunan dari dalam,
pilar-pilar kepercayaan yang patah satu per satu
sebuah ruang privat
yang seharusnya menjadi kuil sunyi,
disusupi bayang-bayang yang merasa berhak jadi cahaya
sepenggal kelamin dijadikan dalih,
seperti kompas rusak yang menunjuk ke arah kekuasaan,
padahal hanya nafsu yang kehilangan arah
dan memilih menjadi badai
lalu kota ramai oleh bisik-bisik,
mengunyah luka jadi cerita,
menyajikannya di meja pergunjingan
seolah itu bukan reruntuhan seseorang
mereka bertanya “kenapa”,
tapi tak pernah pada pelaku—
selalu pada puing yang masih berusaha berdiri
dan tubuh itu—
masih berusaha mengingat
bagaimana rasanya pulang tanpa takut
sebab luka tidak pernah benar-benar diam,
ia berdenyut di sela waktu,
menulis ulang arti aman dengan tinta yang lebih gelap
namun di bawah reruntuhan itu,
ada sesuatu yang tidak ikut hancur:
sebuah bara kecil,
yang menolak padam
ia tumbuh dalam diam,
menjadi akar yang keras kepala,
menembus tanah yang pernah menguburnya
dan ketika suara itu akhirnya pecah,
ia bukan lagi bisikan—
melainkan gemuruh
yang menolak dunia tetap tuli
karena tubuh bukan wilayah rampasan,
bukan peta kosong untuk ditandai sesuka hati—
ia rumah yang pernah dilukai,
tapi tidak pernah berhenti
belajar untuk berdiri kembali