Mengapa Standar yang Ditetapkan untuk Perempuan Selalu Berorientasi pada Fisik?

oleh Putri Rizkia

KUTIP ARTIKEL INI/CITE THIS ARTICLE

Rizkia, Putri. 2026. "Mengapa Standar yang Ditetapkan untuk Perempuan Selalu Berorientasi pada Fisik?" Critical Girlhood Studies, 04 Jun 2026. https://www.criticalgirlhoodstudies.org/article/mengapa-standar-yang-ditetapkan-untuk-perempuan-selalu-berorientasi-pada-fisik.

Selama ini aku sering sekali menemukan perempuan dijadikan objek justifikasi terkait penampilan, seakan-akan kecantikan adalah satu-satunya hal yang menjadikan mereka istimewa. Kalimat seperti "Kalau orangnya secantik dia, aku juga mau, lah!", "Kalau secantik ini mah, gas!", atau "Secantik ini kalau bukan sama aku, rugi, sih!" terdengar di mana-mana. Seakan-akan standar yang dibuat untuk perempuan selalu berhenti pada fisik. Baik dan buruknya seseorang pun dinilai dari fisiknya, padahal ada banyak aspek lain yang bisa menjadi tolak ukur.

Aku menulis ini bukan tanpa sebab. Selain karena melihat fenomenanya di sekitarku, aku juga pernah mengalaminya sendiri. Ada masa ketika aku diremehkan dan menjadi bahan olok-olok karena bentuk tubuhku yang dianggap tidak sesuai dengan standar yang diharapkan. Komentar-komentar itu datang bukan dari orang asing, melainkan dari orang-orang yang dekat denganku. Pengalaman tersebut membuatku menyadari bahwa tubuh perempuan sering kali dianggap sebagai ruang yang bebas untuk dikomentari dan dinilai oleh siapa saja.

Aku masih sering mengingat bagaimana ketika membagikan atau mengunggah kegiatan-kegiatan positif yang pernah kulakukan di media sosial, sebagian orang justru lebih fokus pada penampilanku daripada isi atau makna dari kegiatan tersebut. Tidak sedikit yang dengan mudah berkomentar, "Ih, kok sekarang kamu gendutan?" atau "Ternyata kamu gendut banget, ya." Kalimat-kalimat yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang itu ternyata meninggalkan dampak yang cukup besar bagiku. Tanpa kusadari, aku mulai menjadi lebih berhati-hati terhadap penampilanku sendiri. Ketika sekarang aku cenderung mulai memilih-milih pakaian bukan karena kenyamanan atau kesukaanku, melainkan karena takut terlihat lebih gemuk di mata orang lain. Dari pengalaman itu, aku semakin memahami bagaimana standar fisik yang dilekatkan pada perempuan dapat memengaruhi cara kita memandang diri sendiri, bahkan hingga mengubah kepercayaan diri dan kebebasan kita dalam mengekspresikan diri.

Pengalaman lain yang cukup membekas terjadi ketika waktu itu aku sedang mengurus administrasi di lingkungan kampus. Saat itu, aku melihat bagaimana beberapa orang dilayani dengan senyum, nada bicara yang ramah, bahkan sesekali diajak bercanda untuk mencairkan suasana. Namun, ketika giliranku tiba, perlakuan yang kuterima terasa jauh berbeda: respons seadanya, ekspresi yang datar, dan nada bicara yang terkesan kurang ramah. Pengalaman sederhana itu membuatku mulai mempertanyakan apakah penampilan fisik turut memengaruhi cara seseorang diperlakukan.

Media sosial, iklan, bahkan tokoh publik kerap mengulang pola yang sama: perempuan yang dipuji adalah yang sesuai standar kecantikan populer.
— Putri Rizkia

Pertanyaan tersebut membawa rasa penasaran yang cukup besar di dalam diriku hingga akhirnya ku putuskan untuk mempertanyakan hal tersebut kepada seorang tenaga pendidik di kampusku. Namun, hal itu justru membawaku berdebat dengannya mengenai fenomena beauty privilege. Beliau berpendapat bahwa dalam dunia pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial saat ini pengaruh beauty privilege sudah tidak terlalu signifikan. Namun, aku justru melihat hal yang berbeda.

Aku tidak menampik bahwa saat ini perempuan sudah lebih banyak diterima di berbagai ranah pekerjaan dan lingkungan sosial. Namun, yang sering kali luput dibahas adalah apa yang terjadi setelah perempuan berada di ruang tersebut. Apakah mereka benar-benar dihargai karena kemampuan dan pencapaiannya, atau karena penampilannya dianggap sesuai dengan standar yang ada? 

Bagiku, beauty privilege bukan berarti perempuan cantik tidak bekerja keras atau tidak kompeten. Persoalannya adalah ketika penampilan menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki semua orang, sehingga sebagian perempuan harus berusaha dua kali lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama. Pada akhirnya, perempuan tidak hanya dituntut untuk pintar, tetapi juga cantik; tidak hanya dituntut untuk berprestasi, tetapi juga menarik secara fisik. Standar ganda inilah yang membuatku percaya bahwa beauty privilege masih menjadi bagian dari realitas yang dihadapi banyak perempuan hingga hari ini.

Komentar-komentar terkait beauty privilege yang dilontarkan diatas mungkin terdengar biasa, tetapi sebenarnya memperkuat budaya yang menstandarkan perempuan secara sempit. Ini bukan sekadar soal kata-kata, melainkan soal bagaimana masyarakat menanamkan persepsi sejak dini bahwa perempuan harus cantik supaya dihargai dan dihormati. Media sosial, iklan, bahkan tokoh publik kerap mengulang pola yang sama: perempuan yang dipuji adalah yang sesuai standar kecantikan populer. Tak heran kalau banyak perempuan merasa tertekan untuk selalu tampil sempurna secara fisik, lalu mulai menuntut dirinya harus cantik, bahkan sampai mengorbankan kesehatan mental dan fisiknya sendiri.

Sudah saatnya semua standar yang dibebankan pada perempuan dipertanyakan: siapa yang menciptakan standar ini, dan untuk siapa?
— Putri Rizkia

Lalu, apa jadinya kalau kita mulai memandang perempuan sebagai sosok yang utuh? Yang dihargai karena kecerdasannya, empatinya, keberaniannya mengambil keputusan dan bersuara atas hak-haknya? 

Mungkin kita akan mulai melihat perempuan sebagai individu yang memiliki mimpi, kemampuan, pengalaman, dan perjuangannya sendiri. Perempuan tidak lagi harus bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan bahwa mereka layak didengar atau dihargai. Mereka tidak perlu merasa harus memenuhi standar kecantikan tertentu agar dianggap kompeten, menarik, atau pantas mendapatkan kesempatan yang sama. Dalam masyarakat seperti itu, nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh bentuk tubuh, warna kulit, atau fitur wajahnya, melainkan oleh karakter, kemampuan, dan kontribusi yang ia berikan. Sebab pada akhirnya, perempuan adalah manusia yang utuh, bukan sekadar tubuh yang dapat dinilai dari apa yang terlihat di permukaan.

Sudah saatnya semua standar yang dibebankan pada perempuan dipertanyakan: siapa yang menciptakan standar ini, dan untuk siapa?

Salah satu faktor utama yang mendasari fenomena ini adalah dominasi media dan industri kecantikan yang mengarahkan pandangan masyarakat untuk mengukur nilai perempuan dari penampilannya. Di setiap sudut media, dari iklan hingga film, dan kini diperkuat media sosial, perempuan kerap digambarkan dengan tubuh langsing, wajah sempurna, dan kulit mulus. Gambaran itu membentuk apa yang dianggap "cantik" dan "ideal" dalam masyarakat kita. Produk kecantikan yang menjanjikan transformasi fisik pun makin menegaskan bahwa penampilan luar perempuan adalah hal yang utama.

Media sosial, dengan platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube, berperan besar dalam memperkuat standar kecantikan yang sangat sempit. Banyak influencer dan selebritas tampil dengan citra diri yang nyaris sempurna, riasan flawless, tubuh ramping, dan gaya hidup glamor, sehingga menjadikan penampilan fisik sebagai ukuran kesuksesan dan penerimaan sosial. Dalam banyak kasus, perempuan yang tidak memenuhi standar itu merasa terpinggirkan atau kurang dihargai.

Selain pengaruh media, budaya patriarki yang sudah lama mengakar turut berkontribusi. Selama berabad-abad, perempuan kerap dianggap sebagai objek yang dinilai dari penampilannya. Dalam budaya patriarki, tubuh perempuan sering dijadikan simbol nilai moral dan sosial, sehingga mereka dianggap berharga hanya kalau memenuhi kriteria fisik tertentu. Tidak jarang perempuan dipaksa mengorbankan kenyamanan dan kesejahteraan mentalnya demi memenuhi ekspektasi itu. Kalau tubuh mereka tidak memenuhi standar kecantikan yang dominan, mereka bisa merasa tidak diterima atau kurang berharga.

Kapitalisme juga memperburuk masalah ini. Industri kecantikan, yang meraup untung besar dari penjualan produk untuk memperbaiki penampilan fisik perempuan, kerap menampilkan tubuh perempuan sebagai komoditas yang bisa dipasarkan. Dalam masyarakat kapitalis, di mana keuntungan jadi fokus utama, perempuan dilihat sebagai konsumen yang bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan produk kecantikan. Akibatnya, tubuh perempuan menjadi objek komodifikasi, sementara banyak perempuan merasa tertekan untuk terus menjaga penampilan supaya bisa diterima di pasar sosial.

Standar ganda juga menjadi persoalan utama dalam cara masyarakat memandang perempuan. Perempuan kerap dihargai lebih atas penampilan fisiknya ketimbang kualitas atau keterampilannya. Di dunia kerja, misalnya, banyak perempuan merasa harus tampil "sempurna" secara fisik untuk mendapat penghargaan atau diterima di lingkungan profesional, sementara laki-laki cenderung dihargai berdasarkan kemampuan dan hasil kerjanya, bukan penampilan. Ini menunjukkan adanya ketidaksetaraan gender yang melahirkan harapan sosial yang tidak adil terhadap perempuan.

Semua faktor ini berujung pada satu kesimpulan: standar perempuan yang selalu berakhir pada fisik bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari sistem sosial dan budaya yang lebih besar. Standar kecantikan yang sempit dan kerap tidak realistis, yang dipelihara media, industri kecantikan, dan budaya patriarki, membuat perempuan merasa tertekan untuk memenuhinya. Padahal, nilai perempuan tidak seharusnya hanya diukur dari yang terlihat di luar, tetapi juga dari kualitas yang jauh lebih dalam, seperti kecerdasan, kepribadian, dan kontribusi sosialnya. Sudah saatnya kita berhenti membebani perempuan dengan ekspektasi fisik yang tidak realistis. Menghargai seseorang bukan dari penampilannya, melainkan dari kualitas pribadinya, adalah bentuk kemanusiaan yang paling mendasar.

Untuk menciptakan perubahan yang berarti, kita perlu mengubah narasi tentang kecantikan dan penerimaan sosial. Kita harus mendorong masyarakat untuk melihat perempuan bukan hanya dari penampilan fisiknya, tetapi juga dari kualitas batin dan prestasinya. Dengan begitu, perempuan dapat dihargai secara lebih adil, tidak hanya berdasarkan apa yang terlihat, tetapi juga berdasarkan siapa mereka sebagai individu. Sebab faktanya, ketika menyinggung kesetaraan, yang muncul di benak banyak orang adalah diperlakukan sama, padahal kesetaraan berarti adil. Dan adil tidak bermakna sama, melainkan terpenuhinya hak sesuai kebutuhan, artinya kebutuhan spesifik perempuan dan laki-laki diberi ruang dan tempat yang setara.

Next
Next

Perempuan baru akan bebas ketika ia telah mati