Narasi Kebebasan dan Privilege dalam Tren “First in My Bloodline”

oleh Laila Ramadhani

KUTIP ARTIKEL INI / CITE THIS ARTICLE

Ramadhani, Laila. “Narasi Kebebasan dan Privilege dalam Tren “First in My Bloodline.”” Critical Girlhood Studies, 6 April 2026. https://doi.org/10.5281/zenodo.19435326.

Sumber gambar: Cuitan dari pemilik akun @veyyaaahh di platform X

Pada bulan Februari lalu, sebuah unggahan di media sosial X berhasil menarik perhatian warganet. Unggahan tersebut berasal dari akun @veyyaaahh milik Sithara Jahan, seorang perempuan berusia 23 tahun asal India. Dalam dua foto selfie yang menampilkan dirinya mengenakan kerudung merah bermotif, Jahan menulis cuitan berbunyi, “first in the bloodline to travel without husband.” Cuitan tersebut telah disukai hampir tiga ratus ribu pengguna dan diposting ulang lebih dari dua puluh ribu kali.

Tidak hanya Jahan, banyak perempuan lain turut mengunggah frasa serupa, yakni “first in my bloodline” sesuai dengan pencapaian pertama dalam hidup mereka. Sebagian dari mereka menunjukkan foto kelulusan kuliah, menentang stigma bahwa perempuan harus menikah sebelum usia 30 tahun, hingga merayakan keberhasilan membangun bisnis sendiri. Tren ini kemudian merambah ke media sosial lain seperti Instagram dan TikTok. Banyak dari unggahan tersebut yang menuai respons positif dari warganet. Bahkan, tidak sedikit juga yang mengaku terinspirasi untuk menentukan jalan hidup serta menggapai impian mereka sendiri.

Namun, ada beberapa pertanyaan mendasar yang patut dipikirkan ulang dari frasa tersebut. Mengapa harus first in the bloodline? Mengapa travel, serta without husband, meskipun terdengar sederhana, justru menjadi simbol emansipasi yang dirayakan secara serentak? Tulisan ini berargumen bahwa tren tersebut bukan sekadar klaim otonomi diri, melainkan juga praktik girlhood dalam ruang digital yang dinegosiasikan melalui logika algoritma media sosial dan struktur ketimpangan yang lebih luas.

Bloodline dan Warisan Norma Patriarki

Berkaca dari kehidupan sosial sehari-hari, sebagian besar perempuan masih terkungkung oleh warisan norma patriarki yang mengakar di ruang keluarga. Ironisnya, norma tersebut tidak serta-merta hanya dilanggengkan oleh laki-laki. 

Tidak jarang, anggota keluarga perempuan sendiri turut mereproduksinya melalui proses sosialisasi antar generasi. Misalnya, anak perempuan kerap diajarkan untuk mengerjakan pekerjaan domestik seperti memasak, menyapu, dan mencuci pakaian, sementara anak laki-laki sering kali tidak mendapatkan perlakuan serupa. Dalam banyak keluarga, pembagian peran ini membentuk anggapan bahwa tugas domestik merupakan tanggung jawab perempuan.

Pola pengasuhan tersebut sering dipahami sebagai bentuk persiapan bagi masa depan anak perempuan. Ibu atau anggota keluarga perempuan lainnya mengajarkan nilai-nilai tersebut bukan semata-mata untuk membatasi, melainkan untuk memastikan anak perempuan dapat diterima dalam tatanan sosial yang ada. Fenomena ini menunjukkan bagaimana perempuan kerap menegosiasikan posisinya dalam sistem patriarki, sebuah kondisi yang oleh Deniz Kandiyoti disebut sebagai patriarchal bargain. Praktik semacam ini mungkin tidak tampak sebagai bentuk dominasi patriarki secara langsung, tetapi dalam jangka panjang tetap berkontribusi pada keberlanjutan norma patriarkis dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Oleh karena itu, kata bloodline dalam unggahan Jahan tidak sekadar merujuk pada garis keluarga, melainkan pada sejarah panjang norma gender yang diwariskan secara generasional. Tidak sedikit perempuan yang tumbuh dengan pola serupa dari ibu atau nenek mereka. Sebagian dari mereka dibesarkan dengan tuntutan menjalankan tanggung jawab domestik, ekspektasi menikah di usia muda, bahkan harus menghadapi keterbatasan mobilitas di ruang publik.

Travel sebagai Bentuk Resistensi

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mobilitas perempuan tidak pernah sepenuhnya netral. Melalui artikelnya, Christina Lindkvistmengutip de Madariaga dan Zucchini—menyebutkan bahwa perjalanan perempuan sering kali direduksi dalam bentuk chain trips atau care trips, yakni perjalanan yang berkaitan dengan tanggung jawab merawat keluarga. Dalam hal ini, kegiatan seperti mengantar anak ke sekolah, berbelanja kebutuhan rumah tangga, atau memenuhi kebutuhan domestik lainnya masih menempatkan beban perawatan dan pengasuhan di pihak perempuan.

Jahan sendiri memang tidak menyebutkan secara spesifik dari wilayah India mana ia berasal. Akan tetapi, konteks tersebut tetap memperlihatkan bagaimana mobilitas perempuan kerap berada di bawah pengawasan norma patriarkis. Di banyak masyarakat, perempuan yang telah menikah sering dipandang sebagai tanggung jawab suami mereka, sehingga pergerakan di ruang publik dibatasi oleh tuntutan untuk bersikap patuh serta memprioritaskan peran sebagai istri maupun ibu dalam rumah tangga. Hal ini berbeda dengan laki-laki yang, meskipun telah menikah, umumnya tidak mengalami pembatasan mobilitas yang serupa.

Jika merujuk pada frasa yang digunakan Jahan, travel secara simbolik tidak hanya berarti bepergian, tetapi juga menandai upaya memutus rantai keterbatasan yang selama ini diwariskan kepada perempuan. Kemampuan untuk melakukan perjalanan secara mandiri pun tidak selalu menjadi pengalaman yang biasa bagi banyak perempuan. Ia menjadi sesuatu yang luar biasa karena bertentangan dengan pola mobilitas yang selama ini dilekatkan pada perempuan, sekaligus merepresentasikan kebebasan bergerak yang sebelumnya sulit dicapai.

Paradoks Emansipasi dalam Without Husband

Relasi heteronormatif yang diabadikan melalui frasa without husband juga memunculkan pertanyaan tersendiri. Sekilas, ungkapan tersebut terdengar sederhana dan merujuk pada perjalanan tanpa pengawasan suami. Akan tetapi, secara tidak langsung frasa ini justru masih menempatkan laki-laki sebagai poros utama dalam mendefinisikan kebebasan perempuan. Kebebasan, dalam hal ini, tidak dipahami sebagai otonomi perempuan atas tubuh dan mobilitasnya sendiri, melainkan sebagai kondisi yang terjadi saat laki-laki absen. 

Meskipun tidak terdapat informasi mengenai status pernikahan Jahan, penggunaan frasa tersebut tetap mengisyaratkan bahwa relasi heteroseksual diposisikan sebagai norma utama dalam kehidupan perempuan. Konsep heteronormativitas, yang dipopulerkan oleh Michael Warner, menyatakan bahwa hubungan heteroseksual sering diposisikan sebagai standar sosial yang dianggap paling wajar dan dominan. Padahal, tidak semua perempuan hidup dalam institusi pernikahan heteroseksual. Banyak pula perempuan yang memilih untuk melajang, berada dalam relasi queer, atau memutuskan untuk tidak menikah.

Pada kenyataannya, kebebasan tidak sepenuhnya ditentukan oleh ketiadaan laki-laki. Banyak perempuan yang memiliki otonomi meskipun telah menikah atau memiliki pasangan. Tidak sedikit pula yang memiliki kesempatan untuk solo travel maupun bersama pasangan mereka. 

Dalam hal ini, narasi without husband menghadirkan paradoks. Di satu sisi, ia merayakan kebebasan perempuan dari pengawasan laki-laki. Namun di satu sisi, narasi tersebut berisiko menyederhanakan pengalaman perempuan dengan mengasumsikan bahwa kebebasan hanya mungkin terjadi ketika perempuan berada di luar institusi pernikahan.

Perayaan Girlhood di Ruang Digital

Di era media sosial, pengalaman personal tidak lagi sebatas cerita individu. Melalui logika algoritma digital, sebuah unggahan dapat dengan cepat menyebar dan dibuat ulang oleh ribuan pengguna lain. Dalam analisisnya mengenai “girl” culture di media sosial, Macy Browning Karasik menyebutkan bahwa budaya kontemporer semacam ini kerap mempromosikan pemberdayaan perempuan melalui ekspresi yang tampak individual, seperti estetika, gaya hidup, maupun perilaku sehari-hari.

Hal serupa juga terlihat dalam tren “first in my bloodline”. Ketika kalimat tersebut digunakan berulang kali oleh banyak perempuan, algoritma media sosial turut berperan dalam memperluas jangkauan unggahan serupa, sehingga pengguna lain yang memiliki pengalaman yang sejalan terdorong untuk ikut membagikan cerita mereka. 

Di sisi lain, algoritma juga membentuk cara pengalaman perempuan dipresentasikan. Unggahan yang menampilkan momen visual yang mudah dikenali, seperti foto kelulusan, solo travel, atau pencapaian profesional lebih mudah dibuat ulang dan disebarkan oleh pengguna lain. Alhasil, pengalaman emansipasi pun tampil dalam format yang homogen dan mudah viral, sehingga pemberdayaan direpresentasikan melalui momen simbolik yang dapat dikenali secara visual di ruang digital.

Lebih lanjut, media sosial turut menciptakan ruang digital bagi terbentuknya girlhood, yakni ikatan simbolik antar perempuan yang terbangun melalui pengalaman bersama, meskipun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Melalui tren “first in my bloodline”, foto kelulusan, perjalanan pertama, atau keberhasilan membangun bisnis menjadi bagian dari arsip digital yang memperlihatkan bagaimana perempuan merayakan berbagai momen “pertama” dalam hidup mereka. Ketika pengalaman tersebut dibagikan dan direplikasi oleh banyak pengguna lain, ia telah menjadi narasi kolektif tentang pencapaian perempuan yang selama ini jarang mendapat ruang untuk dirayakan.

Siapa yang Bisa Menjadi Bagian dari “First in My Bloodline”?

Melalui pemikiran Kimberlé Crenshaw, feminisme interseksional menekankan bahwa pengalaman perempuan tidak bersifat tunggal. Ia dibentuk oleh persilangan berbagai faktor sosial seperti kelas, ras, mobilitas, maupun struktur kekuasaan lainnya. 

Dalam hal ini, tren “first in my bloodline” dapat dibaca melalui pendekatan feminisme interseksional sebagai ruang negosiasi yang kompleks. Ia membuka ruang bagi perempuan untuk merayakan pencapaian mereka secara kolektif di media sosial. Akan tetapi pada saat yang sama, tren ini juga memperlihatkan bagaimana pengalaman kebebasan perempuan tetap dibentuk oleh berbagai faktor sosial seperti kelas, mobilitas, serta norma heteronormatif yang masih melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, tidak semua perempuan memiliki kesempatan untuk merayakan kebebasan dengan cara yang sama. Travel, misalnya, bukan hanya soal keberanian untuk bepergian secara mandiri. Ia juga berkaitan dengan akses ekonomi, dokumen perjalanan seperti visa atau paspor, serta rasa aman ketika berada di ruang publik. Bagi sebagian perempuan, bepergian sendirian mungkin merupakan pengalaman yang relatif biasa. Namun bagi perempuan lain, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, memiliki tanggung jawab domestik yang besar, atau menghadapi risiko keamanan di ruang publik, mobilitas semacam itu justru sukar untuk diwujudkan. 

Kemudian, berbagai frasa yang muncul dalam tren ini—seperti bloodline, travel, maupun without husband—memperlihatkan bagaimana kebebasan perempuan dinegosiasikan dalam berbagai lapisan sosial. Istilah bloodline menyinggung warisan norma gender yang diturunkan antar generasi dalam keluarga. Sementara itu, travel menjadi simbol kemampuan perempuan untuk melampaui batas mobilitas yang selama ini dilekatkan pada mereka. Di sisi lain, frasa without husband memperlihatkan paradoks lain, yakni bagaimana kebebasan perempuan masih sering didefinisikan melalui relasi dengan laki-laki. Ketiga elemen tersebut menunjukkan bahwa pengalaman kebebasan perempuan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berkelindan dengan struktur sosial yang lebih luas.

Pada akhirnya, tren “first in my bloodline” dapat dimaknai sebagai deklarasi simbolik bahwa rantai tersebut berhenti pada dirinya. Pencapaian yang ditampilkan bukan sekadar pengalaman personal, tetapi juga menandai jarak historis dengan generasi perempuan sebelumnya yang hidup dalam batasan tertentu. Di ruang digital, pengalaman tersebut kemudian berubah menjadi narasi kolektif yang merayakan berbagai “momen pertama” perempuan. Namun, di balik unggahan yang viral dan inspiratif, tren ini juga mengingatkan bahwa kebebasan tersebut tidak pernah sepenuhnya merata. Berbagai struktur sosial seperti kelas, mobilitas, hingga norma gender masih menentukan siapa yang dapat merayakan kebebasan tersebut, dan siapa yang masih harus terus memperjuangkannya.

Next
Next

Perempuan adalah Tentang Apa yang Tak Terutarakan