Perempuan, Pilihan, dan Kebebasan dalam Cinta

oleh cindy

KUTIP ARTIKEL INI / CITE THIS ARTICLE

cindy. "Perempuan, Pilihan, dan Kebebasan dalam Cinta." Critical Girlhood Studies, 25 March 2026. https://doi.org/10.5281/zenodo.19211002.

Jujur saja, saya benci memasak.

Sialnya, memasak adalah hal yang saya dan para perempuan di rumah lakukan pertama setelah bangun tidur.  Setiap pagi, setiap hari. Tidak peduli hari kerja atau hari libur. Setelah itu, pekerjaan dilanjutkan dengan mencuci baju dan membersihkan rumah. Dua jam berlalu begitu saja sebelum kami buru-buru berbenah dan bersiap untuk bekerja.

Jujur saja, saya masih tak habis pikir. Dengan empat perempuan di rumah pun, tubuh tetap terasa remuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tak pernah digaji.

Lalu, bagaimana ibu saya dulu melakukannya seorang diri ketika saya masih kecil?

Ia harus mengurus tiga anak: memandikan, mengikat rambut, dan mengantar mereka ke sekolah. Sementara itu, ia juga bekerja nine to five. Pulang ke rumah, rutinitas itu diulang lagi sebelum tidur, hanya untuk memulai hari yang sama keesokan harinya.

Melihat rutinitas itu sejak kecil, saya membulatkan keputusan: Saya tidak akan menikah. Saya juga tidak akan melahirkan atau punya anak.

Meski ibu tidak pernah mengatakan apa-apa, saya tahu ada sesuatu yang hilang darinya sejak ia menjadi istri dan ibu—dirinya sendiri.

Ia kehilangan jati diri, kebebasan, dan waktunya. Juga energinya, tubuhnya, bahkan masa emasnya.

Ibu kehilangan kesempatan untuk mengeksplorasi dunia, ruang untuk mempelajari hal-hal yang diminatinya, dan harapan untuk menjadi apa yang dulu ia impikan.

Bilang saya egois, tetapi saya tidak rela kehilangan semua itu hanya demi status yang tampak ideal di mata masyarakat, meski sebenarnya menyiksa untuk dijalani.

Bilang saya materialistis, tetapi saya juga tak kuasa melakukan pekerjaan rumah tangga setiap hari seumur hidup hanya agar terlihat baik di mata mertua—yang bahkan tidak akan memberi upah jasa atas semua itu.

Karena beban yang terlihat sepele adalah bagian dari sistem yang mengekang hidup perempuan.

Perempuan dan Penjaranya

Saya tidak bisa menyembunyikan kernyit di dahi setiap kali mendengar bahwa perempuan lebih cocok melakukan pekerjaan rumah tangga. Terlebih, ketika kalimat tersebut keluar dari mulut laki-laki yang seumur hidupnya tak pernah menyentuh sapu atau deterjen.

Namun, tak bisa dielak bahwa sistem patriarki memberi porsi yang jauh lebih besar kepada perempuan dalam ranah domestik, sementara peran perempuan di ruang publik sering kali hanya dianggap sebagai bentuk dukungan bagi laki-laki.

Padahal, hari ini perempuan sudah dapat bekerja dan memiliki hak yang hampir setara dalam ruang publik berkat suara dan perjuangan gerakan feminisme selama puluhan tahun. Namun, perubahan itu tidak serta-merta mengurangi beban perempuan di rumah. Ranah domestik masih dilekatkan sebagai “kodrat” perempuan, sesuatu yang dianggap tidak perlu dibagi dengan laki-laki.

Perempuan yang melayani keluarga di dalam rumah masih dipahami sebagai menjalankan kewajiban, bahkan sebagai bentuk kasih sayang yang tak terelakkan.
— cindy

Mereka lupa, kodrat hanya merujuk pada sifat atau kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang bagi perempuan adalah hamil, melahirkan, dan menyusui. Memasak, mencuci, dan pekerjaan domestik lainnya tidak pernah menjadi bagian dari kodrat tersebut.

Sayangnya, bukan hanya laki-laki yang mempertahankan pemahaman ini. Banyak perempuan juga masih menempatkan diri dan sesamanya di dalam kerangka yang sama. Perempuan yang melayani keluarga di dalam rumah masih dipahami sebagai menjalankan kewajiban, bahkan sebagai bentuk kasih sayang yang tak terelakkan.

Namun apa yang sering disebut sebagai “cinta” itu sesungguhnya adalah pekerjaan yang tidak dibayar. Dalam esainya Wages Against Housework (1974), Silvia Federici menuliskan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah salah satu bentuk manipulasi dan kekerasan paling halus dan terselubung dalam sistem kapitalisme. Ia dipaksakan kepada perempuan dan dinarasikan sebagai sesuatu yang alami, seolah berasal dari tubuh, kepribadian, bahkan panggilan batin perempuan itu sendiri.

Perempuan bekerja sejak mereka membuka mata di pagi hari. Bekerja lagi di kantor. Lalu pulang ke rumah untuk bekerja kembali sebelum akhirnya menutup mata di malam hari.

Pekerjaan yang bahkan tidak pernah dihitung sebagai lembur dari batas normal empat puluh jam kerja dalam seminggu.

Dan jujur saja, mungkin sebetulnya saya tidak benar-benar membenci memasak. Atau mencuci baju. Atau membersihkan rumah.

Tetapi setiap kali melakukannya, saya teringat bagaimana ibu saya menjalaninya selama puluhan tahun. Dan perlahan, saya menyadari bahwa pekerjaan sederhana itu bisa berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Bukan karena pekerjaan domestik itu sendiri, melainkan karena rutinitas panjang tersebut akan  menelan hidup saya.

Menikah dan punya anak berarti menambah beban tak terlihat yang merampas waktu, tubuh, dan kebebasan saya sebagai perempuan—menjebak saya dalam penjara yang harus saya bayar dengan seluruh hidup, tanpa pamrih.

Bila semua itu harus dimaknai sebagai “cinta”, maka saya memilih untuk tidak mencintai sama sekali.

Perempuan dan Cinta

Saya tumbuh besar dengan dua saudara perempuan. Seumur hidup, kami nyaris tak pernah benar-benar terpisah. Memasak sambil mengobrol, membeli makanan untuk dibagi, memberi hadiah kecil, atau sekadar saling bercerita tentang hari yang panjang sepulang kerja.

Belakangan saya menyadari, semua hal sederhana itu adalah bentuk cinta; jenis cinta yang selama ini tidak pernah kami beri nama.

Sebagai perempuan, saya melihat bagaimana cinta sering kali dimaknai hanya dalam satu bentuk: pernikahan. Seolah cinta baru sah ketika seorang laki-laki memilih seorang perempuan untuk menjadi istrinya dan membangun keluarga bersamanya.

Karenanya, ketika saya menyatakan keputusan untuk tidak menikah, banyak orang berkata bahwa saya tidak akan bahagia tanpa cinta.

Padahal, hidup saya tidak kekurangan cinta sama sekali.

Saya menemukannya pada dua saudara saya, ketika kami saling menghibur di masa sulit. Pada sahabat yang selalu menjadi tempat mengeluh. Pada teman kantor yang berbagi percakapan panjang tentang hidup dan politik. Pada orang tua yang membagi sebagian hidupnya dengan saya.

Saya juga menemukannya dalam hal-hal kecil: dalam hobi dan tulisan yang saya buat, dalam buku dan film yang membantu saya memahami hidup, dalam playlist musik yang menemani hari-hari saya, dalam jurnal yang memberi ruang untuk menelanjangi isi kepala tanpa takut dihakimi.

Semua hal yang membuat saya merasa hidup, saya labeli sebagai cinta, hingga rasanya terlalu sempit jika cinta hanya didefinisikan dengan pernikahan. Apalagi, bila cinta tersebut hanya akan memenjara saya dari kesempatan untuk berkembang dan merasa bahagia.

Memilih untuk tidak menikah tidak membuat saya menjadi perempuan yang tidak utuh. 

Dan mungkin, nantinya, hidup tanpa pernikahan akhirnya membuat saya mencintai memasak.

Next
Next

Siapa yang Boleh Bicarakan Politik di Meja Makan Lebaran?