Membaca Ulang Ophelia: Patah Hati dan Representasi Perempuan dari Shakespeare hingga Taylor Swift
oleh Umi Nurdianti
Ilustrasi oleh Lu. Sumber: https://pin.it/RRyJZuopx
Taylor Swift baru-baru ini merilis lagu berjudul "The Fate of Ophelia." Selain menawarkan melodi yang ringan dan menyenangkan untuk didengar, lagu ini secara implisit membuka kembali ingatan kita tentang sosok Ophelia: figur perempuan dalam sastra klasik yang selama berabad-abad dilekatkan pada narasi cinta, kegilaan, dan kehancuran. Pembahasan ini menjadi menarik bukan hanya karena datang dari budaya populer, tetapi karena menunjukkan bahwa Ophelia masih hidup dalam imajinasi kita: sebagai simbol patah hati perempuan yang dianggap tak terhindarkan. Dari titik inilah, Ophelia perlu dibaca ulang dan dipahami dengan cara yang lebih baik. Bukan sebagai kisah cinta yang gagal, melainkan sebagai bukti bagaimana sejarah sastra dan budaya merepresentasikan perempuan, terutama ketika berhadapan dengan kehilangan, kekecewaan, dan emosi.
Ophelia mungkin merupakan tokoh perempuan Shakespeare yang paling sering diilustrasikan dan dikutip. Kehadirannya berulang kali dimaknai melalui citra visual yang serupa: tubuh yang rapuh, ekspresi kehilangan, dan kematian yang sunyi. Representasi ini diperkuat oleh tradisi seni rupa, seperti lukisan Odilon Redon yang menggambarkan Ophelia tenggelam, serta pementasan teater yang menempatkannya sebagai perempuan yang runtuh akibat cinta.
Namun, persoalan utamanya bukan pada Ophelia sebagai individu fiktif, melainkan pada pola representasi yang terus direproduksi. Dalam pembacaan tradisional Hamlet, Ophelia kerap direduksi menjadi simbol “wanita dan kelemahan.” Ia hadir sebagai anak yang patuh, saudari yang diam, dan kekasih yang kehilangan arah, bukan sebagai subjek yang berpikir dan mengambil keputusan. Sehingga sampai detik ini narasi yang terus dibangun adalah bagaimana perempuan harus belajar dari kisah Ophelia agar tidak mengalami hal yang sama meskipun terdengar positif tapi tanpa sadar kita turut menyetujui bahwa perempuan memang lemah dan tidak rasional. Ia tidak hanya sekedar karakter fiksi tapi citra diri kita sebagai perempuan hidup di dalam dirinya.
Elaine Showalter, dalam esainya "Representing Ophelia: Women, Madness, and the Responsibilities of Feminist Criticism," menegaskan bahwa Ophelia tidak pernah benar-benar diberi suara dalam teks. Kegilaannya bukan kondisi psikologis yang berdiri sendiri, melainkan konstruksi budaya yang menjadikan tubuh dan emosi perempuan sebagai medium ekspresi ketika bahasa dan rasionalitas tidak disediakan baginya.
“Ophelia dijadikan contoh ekstrem: perempuan yang patuh, penuh kasih, dan lembut digambarkan tidak memiliki otoritas diri dan mekanisme untuk bertahan ketika kehilangan, alhasil feminitas tidak diakui sebagai kekuatan tapi dipercayai sebagai sumber kerentanan.”
Sejarah teater dan resepsi publik semakin mengukuhkan konstruksi ini. Pada abad ke-18 dan ke-19, Ophelia sering diperankan dengan penekanan pada kerapuhan emosional dan kesedihan ekstrem. Bahkan beredar legenda tentang aktris yang meninggal setelah memerankan Opheliakisah yang terlepas dari kebenarannya, memperkuat kepercayaan bahwa kegilaan dan kehancuran adalah bagian alami dari feminitas. Narasi semacam ini menciptakan hubungan problematis dalam bayangan menjadi perempuan yaitu antara cinta, kelembutan, dan penderitaan perempuan.
Sandra Gilbert dan Susan Gubar, dalam buku The Madwoman in the Attic, menjelaskan bahwa kegilaan perempuan dalam sastra Barat kerap berfungsi sebagai metafora represi. Ketika perempuan tidak diberi ruang untuk mengekspresikan diri secara rasional, emosi dan tubuh merekalah yang kemudian ditandai sebagai tidak stabil. Dalam konteks ini, Ophelia bukan contoh perempuan yang gagal menghadapi patah hati, melainkan contoh bagaimana masyarakat gagal menyediakan kerangka yang adil bagi perempuan untuk menghadapi kehilangan tanpa harus hancur. Pembacaan ini relevan dengan bagaimana patah hati dipahami dalam budaya secara lebih luas. Patah hati sering diperlakukan sebagai pengalaman yang harus dilalui melalui penderitaan mendalam, khususnya bagi perempuan, yang kerap dianggap “lebih emosional.” Padahal, patah hati sebenarnya juga dapat dihadapi perempuan secara rasional, melalui penerimaan yang lapang, tanpa harus mematikan empati atau menanggalkan kasih, hanya saja perlu waktu dan dukungan dari lingkungan sekitar untuk segera kembali pulih. Rasionalitas dan kelembutan bukan dua kutub yang saling meniadakan. Masalah muncul ketika budaya membangun narasi bahwa kelembutan perempuan adalah titik balik menuju tragedi.
Ophelia dijadikan contoh ekstrem: perempuan yang patuh, penuh kasih, dan lembut digambarkan tidak memiliki otoritas diri dan mekanisme untuk bertahan ketika kehilangan, alhasil feminitas tidak diakui sebagai kekuatan tapi dipercayai sebagai sumber kerentanan.
Interpretasi ulang terhadap Ophelia dalam karya kontemporer—seperti karya Lisa Klein film Ophelia (2018)—menawarkan kemungkinan narasi lain. Dalam versi ini, Ophelia tidak lagi semata korban cinta atau kegilaan, melainkan subjek yang mempertahankan identitas, rasionalitas, dan kehormatannya di tengah tekanan sosial yang membatasi pilihannya. Reinterpretasi ini memindahkan Ophelia dari posisi pasif menuju figur yang asertif dan memiliki agensi, tanpa harus menanggalkan kelembutan dan kapasitasnya untuk mencintai.
Dalam konteks yang serupa, kehadiran lagu "The Fate of Ophelia" karya Taylor Swift dapat dibaca sebagai angin segar dalam lanskap representasi Ophelia di budaya populer. Lagu ini tidak sekadar mengulang kisah tragis yang telah lama dikenang, tetapi menghadirkan Ophelia dari sudut pandang yang lebih berdaya—sebagai figur yang sadar akan luka, namun tidak ditakdirkan untuk tenggelam olehnya. Ophelia dalam lagu ini tidak direduksi menjadi simbol kegagalan cinta, melainkan direpresentasikan sebagai perempuan yang memahami batas antara mencintai dan kehilangan diri. Melalui "The Fate of Ophelia", makna “takdir” Ophelia digeser dari sesuatu yang fatalistik menjadi ruang refleksi tentang pilihan, kesadaran, dan kelangsungan diri. Ophelia tidak lagi hadir sebagai peringatan tentang bahayanya emosi perempuan, tetapi sebagai kemungkinan baru tentang bagaimana perempuan dapat tetap peka, penuh kasih, dan manusiawi tanpa harus berakhir tragis.
Dengan demikian, patah hati tidak dilihat sebagai akhir, dan kelembutan tidak berujung pada kehancuran. Reinterpretasi ini menegaskan bahwa perempuan dapat tetap penuh kasih tanpa harus patah, tetap mencintai tanpa kehilangan diri. Ophelia versi kontemporer—baik dalam sastra, film, maupun musik—tidak menghapus luka dari kisahnya, tetapi menolak menjadi gambaran buruk tentang perempuan. Ophelia tidak perlu lagi dipahami sebagai kegilaan dan kehancuran melainkan sebagai kritik terhadap sistem yang menolak kemungkinan bahwa perempuan dapat menghadapi kehilangan dengan rasionalitas dan penerimaan—tanpa harus berakhir tragis. Dari sini, terbuka ruang bagi narasi yang lebih adil: di mana kelembutan tidak lagi disamakan dengan kelemahan, dan patah hati tidak harus menjadi takdir.