Narasi sang Puan : Tatapan, Rasa tidak nyaman dan Keraguan

oleh Shanay

Ilustrasi oleh Shanay

Ketika sedang dalam perjalanan, di gerbong KRL wanita terdapat poster kecil berisi berbagai bentuk pelecehan seksual. Hal yang menarik perhatianku adalah tulisan “Main Mata”, yang langsung membuatku teringat akan suatu kejadian yang menimpa salah satu temanku saat perjalanan pulang kampus pada malam hari di salah satu transportasi umum.

Saat itu ia bercerita, bahwa seorang pria tidak dikenal yang duduk di sampingnya. Pada awalnya memang tidak ada kejadian aneh maupun hal mengganggu, tetapi ketika sudah separuh perjalanan temanku merasa terus diawasi, ditatap oleh pria di sebelahnya. Kejadian tersebut berlangsung cukup lama hingga membuat temanku tidak nyaman. Hal tersebut yang membuatnya memilih untuk berdiri sepanjang perjalanan.  Meski merasa takut dan cemas, terdapat setitik keraguan dalam benaknya. Apakah ia berlebihan dengan menganggap bahwa dirinya telah dilecehkan meski hanya sekedar ditatap dan tidak terjadi sentuhan fisik? Atau memang hal itu tidak wajar.

Kini bentuk pelecehan seksual semakin beragam. Tak dapat dipungkiri, semakin banyak berita atau kasus pelecehan seksual baik melalui kontak fisik dan non fisik di ranah publik. Apalagi untuk seseorang yang menggunakan transportasi umum dan bertemu dengan banyak orang di tempat terbuka, berdesakan, menempel dengan seseorang dikarenakan transportasi cukup padat. Itu semua merupakan hal yang biasa terjadi ketika seseorang menggunakan transportasi umum. Tak ayal, ada saja oknum yang menggunakan kesempatan tersebut untuk melancarkan aksinya, entah dalam bentuk menyentuh, verbal atau hal yang sering dianggap sepele yaitu melihat seseorang dengan tatapan intens atau intimidasi. 

Dilansir pada artikel BeautyNesia.id , perilaku menatap seseorang dengan pandangan yang tidak diinginkan dan dapat membuat seseorang tersebut tidak nyaman juga termasuk ke dalam pelecehan seksual. Tatapan yang dimaksud adalah ketika orang tersebut menatap cukup lama dan berkali-kali membuat kita merasa tidak nyaman dan gelisah atau pada kasus terburuknya korban merasa takut. Seperti yang dijelaskan di awal, bentuk pelecehan seperti “Main mata” juga termasuk hal yang harus diwaspadai. Salah satu bentuk pelecehan ini memang masih dianggap sepele dan terdengar awam bagi kebanyakan orang. Justru dengan alasan tersebut, bentuk pelecehan ini dapat terjadi dimana saja, kapan saja atau bahkan ketika kita tidak menyadarinya. 

Jika hanya dengan tatapan dapat membuat seseorang menjadi tidak nyaman bahkan meragukan dirinya sendiri, lantas bagaimana seseorang mengetahui tentang situasi yang harus diwaspadai?

Berbekal dengan keraguan tersebut, seseorang akan menganggap jika dirinya hanya berlebihan karena mereka tidak merasa disentuh dan mereka juga saling tidak berinteraksi. Tetapi rasa tidak nyaman tersebut akan terus menemani. Mereka lantas memilih diam, takut dianggap jika mereka terlalu sensitif atau hanya salah paham meski tubuh mereka bereaksi lain, merasa gelisah dan ketakutan. 

Meski hal tersebut masih dianggap awam oleh masyarakat dalam negeri, nyatanya hal ini menjadi sebuah perhatian besar di London. Artikel yang dimuat BBC pada tanggal 30 April 2022 ini menulis jika di kota London, Tepatnya di Transport For London yang merupakan stasiun kereta London menggelar sebuah kampanye yang disebut sebagai “Staring” atau “Unwanted Starring”. Dalam poster yang tersebar di dalam kereta dan menyebar sepanjang lorong ini dirancang oleh kepolisian transportasi Inggris dan Transport of London. Salah satu tulisan dalam poster yang menarik perhatian masyarakat ialah masalah “tatapan yang mengganggu” di transportasi umum. Kepolisian Inggris bekerja sama dengan Transport of London untuk memperingatkan para penumpang bahwa hal tersebut dapat dianggap sebagai pelecehan seksual. 

Kampanye yang dimulai sejak oktober 2021 tersebut tidak dibuat secara tiba-tiba, hal ini didasarkan dengan beberapa pengalaman dari salah seorang penumpang atau korban yang merasa dilecehkan melalui tatapan seseorang yang mereka dapatkan ketika menaiki transportasi umum. Dilansir pada artikel yang sama, salah seorang wanita berkata ia mengalami sebuah pengalaman yang kurang mengenakkan ketika berada di dalam kereta di pusat kota London, saat itu ia mengatakan jika terdapat seorang pria yang “menatapnya dengan seksama” selama 25 menit tanpa henti. Wanita itu mulai merasa tidak nyaman dan pada awalnya mengira jika musik yang disetelnya terlalu keras, namun di sisi lain ia mengatakan jika itu juga tidak mungkin karena di dalam gerbong kereta yang ramai hanya pria itu satu-satunya yang menatapnya secara intens. 

Menatap seseorang memang bukanlah suatu tindakan ilegal, namun jika tatapan tersebut dapat membuat seseorang merasa terganggu dan tidak nyaman serta bersifat seksual hal ini dapat menyebabkan pelecehan, kekhawatiran yang dapat diklasifikasikan sebagai pelanggaran ketertiban umum. Dalam BBC juga tercantum jika Dr Fiona Vera-Gray dari Unit Studi Pelecehan Anak dan Perempuan di London Metropolitan University mengatakan jika tatapan yang mengganggu itu termasuk “pelecehan seksual di tempat umum” perasaan diawasi, diperhatikan dan dievaluasi dapat menciptakan kesadaran diri terhadap tubuh, seseorang akan menjadi lebih sensitif dengan apa yang salah dengan dirinya, ia akan terus memperbaiki perilakunya tanpa mengetahui bahwa diri mereka sebenarnya tidak melakukan kesalahan. 

Situasi tersebut patut kita khawatirkan karena jika seorang korban tidak menyadari dan meragukan jika diri mereka korban maka kedepannya mereka akan terus mengalami kecemasan atau overthinking berlebih. Berawal dari sebuah tatapan akan membuat seseorang merasa tidak percaya diri, gelisah, takut ketika bertemu dengan banyak orang di transportasi umum. Maka dari itu, dibutuhkan validasi perasaan antar sesama tentang jenis-jenis pelecehan seksual. Edukasi dan keberanian untuk speak up atas sesuatu yang membuat diri sendiri tidak nyaman merupakan sebuah langkah yang dapat kita lakukan guna mengurangi atau mencegah pelecehan dalam bentuk non-fisik.

Previous
Previous

Mengenal Pink Tax: Ketika Perempuan Harus Mengeluarkan Lebih Banyak Biaya untuk Kebutuhannya

Next
Next

Mengapa Standar yang Ditetapkan untuk Perempuan Selalu Berorientasi pada Fisik?