Perempuan baru akan bebas ketika ia telah mati
oleh Vallery Kendira
Sumber gambar: Pinterest https://pin.it/54Kdg4i0W, https://pin.it/6QyiHkgr2, https://pin.it/2EPtR8yPE
Pernahkah kau bertanya, pada tubuhmu sendiri; seberapa jauh ia benar-benar milikmu?
Atau jangan-jangan, sejak awal, ia hanya ruang sewa yang ramai oleh aturan?
Sejak kecil, bahkan sebelum kita tahu cara menyebut diri, kita sudah diarahkan:
rok untukmu, merah muda untukmu, duduk yang rapi, langkah yang hati-hati.
Tubuh kecil itu dilatih bukan untuk bergerak bebas, tapi untuk berjaga;
menahan kain, menahan pandangan, menahan kemungkinan.
Lalu kita tumbuh.
Dan anehnya, semakin dewasa, semakin asing tubuh ini terasa.
Kita diajari untuk merasa “jijik” pada vagina sendiri,
pada bagian tubuh yang paling hidup justru paling diremehkan.
Darah pertama yang jatuh dari rahim tidak disambut sebagai pengetahuan,
melainkan sebagai kepanikan yang harus segera dirasionalisasi diam-diam.
Sakit yang menggulung perut dianggap wajar,
seolah tubuh perempuan memang diciptakan untuk terus menahan tanpa diperbolehkan untuk mempertanyakan.
Dan kita patuh.
Kita belajar membungkus pembalut seperti membungkus rahasia negara.
Kita belajar berjalan dengan punggung menempel tembok,
menghindari dunia yang terlalu mudah menertawakan kebocoran kecil.
Kita belajar menjadi sunyi, bahkan ketika tubuh sedang berteriak.
Katanya tubuh ini utuh.
Lucunya, keutuhan itu bisa disentuh siapa saja tanpa izin.
Bisa dipukul, bisa dirampas, bisa dilukai dan kita diminta melupakannya seolah ingatan adalah kesalahan kita????
Semakin beranjak dewasa aku mulai memahami hal lain yang sama saja aturannya (bahkan lebih parah).
Kulit ini bukan milikku;
sedikit tinta di atasnya, dan moralku diputuskan dari seberapa "bersih" tubuhku.
Bahkan kepalaku bukan milikku;
ia disewa jam kerja, diperas untuk keuntungan yang tak selalu kembali padaku.
Telingaku dilatih kebal; menelan seksisme seperti rutinitas,
celoteh atasan yang merasa paling tahu, paling benar,
dan penjelasan panjang yang tak pernah benar-benar diminta.
Rahim ini bukan milikku sepenuhnya;
ia berubah jadi ruang publik begitu cincin melingkar di jari.
“Kapan isi?” tanya mereka,
seolah tubuhku adalah kalender yang bisa mereka tandai.
Dan ketika aku memilih untuk tidak mengisinya,
tiba-tiba aku jadi teka-teki yang harus dipecahkan.
“Kenapa?” “Nanti menyesal, lho.”
Payudara ini juga bukan milikku;
ia diukur dari seberapa “ideal” menurut standar mereka.
Keputusanku diperlakukan seperti kesalahan,
seperti ada yang rusak dalam diriku yang harus diperbaiki.
Padahal untuk pertama kalinya,
aku hanya sedang memilih sesuatu tanpa meminta izin.
Mata dan bibir ini?
Ah, itu paling berbahaya.
Sedikit saja aku terlalu lantang,
dunia seakan punya seribu cara untuk membungkamku.
Aku tidak sepenuhnya milikku.
Mungkin tak akan pernah.
Sampai kapan?
Aku pernah bertanya.
Dan hatiku, dengan santai, menjawab:
“sampai mati.”
Perempuan baru akan bebas ketika ia telah mati.
Ketika tubuh ini kembali ke tanah,
larut dalam air,
menghilang dalam api,
dan terbang bersama udara
akhirnya tidak ada lagi yang bisa mengatur posisiku,
menentukan nilainya,
atau mengomentari bentuknya.
Tulang-belulang ini akan bebas memilih arah,
daging yang dulu diawasi akan lenyap tanpa penilaian,
dan aku, akhirnya tidak perlu lagi menjadi apa-apa.
Angin akan membawaku tanpa izin siapa pun.
Aku bisa menari tanpa takut dilihat,
berbicara tanpa takut dibungkam,
ada tanpa harus menjelaskan.
Tidak ada lagi cemooh,
tidak ada lagi lecehan,
tidak ada lagi rasa sakit yang harus disembunyikan.
Karena akhirnya,
aku menjadi sesuatu yang paling ditakuti dunia ini:
bebas.
Namun kebebasan itu ternyata datang
tepat setelah aku tak lagi bisa menikmatinya.