“Omongan Begini Cuma Candaan Kita-Kita Doang, Kok”

Sebuah Catatan atas Normalisasi Kekerasan Seksual di Ruang Privat dan Pembiaran Institusi Pendidikan atas Penyelesaian Kasus Kekerasan Seksual

oleh Naysilla Rose

KUTIP ARTIKEL INI / CITE THIS ARTICLE

Rose, Naysilla. "'Omongan Begini Cuma Candaan Kita-Kita Doang, Kok': Sebuah Catatan atas Normalisasi Kekerasan Seksual di Ruang Privat dan Pembiaran Institusi Pendidikan atas Penyelesaian Kasus Kekerasan Seksual." Critical Girlhood Studies, 23 April 2026. https://www.criticalgirlhoodstudies.org/article/omongan-begini-cuma-candaan-kita-kita-doang-kok.

Ilustrasi oleh Comrade Zakor, 2020

Kasus yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum UI baru-baru ini kembali membuka sesuatu yang sebenarnya sudah lama diketahui, tetapi sering dianggap sepele. Sekelompok mahasiswa laki-laki membuat grup chat berisi percakapan yang mengobjektifikasi dan melecehkan perempuan, dimulai dari teman, mantan pacar, hingga dosen mereka sendiri. Percakapan itu dipenuhi lelucon seksual, komentar tentang tubuh perempuan, dan berbagai bentuk objektifikasi lain yang kemudian bocor ke publik dan menjadi viral.

Respons yang muncul pun cepat: kecaman, tuntutan permintaan maaf, hingga “pengadilan sosial” di kampus. Namun, di balik itu, ada satu hal mendasar yang sering terlewat: bahwa apa yang terjadi di grup chat tersebut bukanlah sesuatu yang tiba-tiba muncul, melainkan bagian dari pola yang lebih luas: normalisasi kekerasan seksual di ruang privat.

Kekerasan Tidak Tiba-Tiba Terjadi

Kita sering membayangkan kekerasan seksual sebagai peristiwa yang ekstrem, seperti pemerkosaan, kekerasan fisik, atau bahkan pembunuhan. Perspektif ini membuat kita melihat kekerasan sebagai sesuatu yang terpisah dari keseharian. Padahal, dalam piramida kekerasan seksual, bagian paling bawah justru diisi oleh hal-hal yang dianggap “ringan” seperti lelucon seksis, stereotip gender, objektifikasi tubuh perempuan, hingga victim blaming. Lalu, di atasnya terdapat pelecehan verbal, catcalling, dan penyebaran konten tanpa persetujuan. Sementara itu, tindakan ekstrem seperti pemerkosaan dan femisida berada di puncaknya. Namun, hal yang sering dilupakan adalah bahwa yang berada di bagian bawah bukan sekadar latar belakang, ia menjadi pondasi dari bagian yang ada di atasnya. 

Bahasa Bukan Sekadar Kata-Kata

Seringkali, pembelaan terhadap praktik normalisasi ini berbunyi: “itu cuma bercanda” atau “kan cuma di grup chat. ”Pernyataan ini berangkat dari anggapan bahwa bahasa seolah sesuatu yang netral dan tidak berdampak. Padahal, bahasa adalah praktik sosial. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai symbolic violence, sebuah bentuk kekerasan yang halus, tidak kasat mata, dan seringkali tidak dikenali sebagai kekerasan.

Kekerasan simbolik ini bekerja melalui bahasa, norma, dan kebiasaan sehari-hari yang membentuk cara kita melihat dan memahami dunia. Kerangka ini ingin berbicara bahwa lelucon seksual bukan sekadar humor. Ia menjadi mekanisme yang menentukan apa yang dianggap wajar, apa yang bisa ditertawakan, dan siapa yang boleh menjadi objek. Ketika objektifikasi perempuan dibagikan dan ditertawakan bersama, batas antara “bercanda” dan “kekerasan” menjadi kabur. Pada titik itulah, toleransi terhadap kekerasan mulai dibangun.

Ilustrasi oleh Comrade Zakor, 2020

Grup Chat sebagai “Backstage”

Kemudian, untuk memahami mengapa praktik ini begitu mudah terjadi di ruang privat seperti grup chat, kita bisa melihatnya melalui konsep dramaturgi dari Erving Goffman. Goffman membedakan antara front stage, sebuah ruang publik di mana individu menjaga citra diri dan backstage, sebuah ruang di mana mereka merasa aman untuk “menjadi diri sendiri” dan jauh dari tuntutan norma sosial. 

Grup chat laki-laki dalam hal ini berfungsi sebagai backstage. Pada backstage, individu merasa bebas dari pengawasan. Mereka lebih santai, lebih jujur, dan lebih “tanpa filter”. Namun, justru di ruang inilah norma sosial tidak menghilang, melainkan diproduksi ulang. Hal yang terjadi di grup chat bukan sekadar “isi kepala” individu. Ia menjadi praktik sosial yang dibagikan, ditertawakan, dan divalidasi bersama. Ketika satu orang membuat komentar seksual, yang lain merespons dengan tawa atau persetujuan. Dalam proses itu, pelecehan tidak hanya terjadi. Kini, ia menjadi sesuatu yang kolektif.

Pada banyak kasus, percakapan seperti ini juga berfungsi sebagai bentuk bonding. Relasi antar laki-laki kerap dibangun melalui praktik di mana solidaritas kelompok diperkuat melalui kesamaan sikap, termasuk dalam bentuk seksisme dan objektifikasi perempuan. Dengan demikian, pelecehan dipandang sebagai bagian dari cara “menjadi bagian dari kelompok”. Inilah yang membuatnya sulit dihentikan karena yang dipertaruhkan bukan hanya perilaku individu, tetapi juga posisi dalam relasi sosial.

Argumen bahwa“ini cuma candaan kita-kita” justru mengabaikan hal penting: ruang privat seringkali menjadi tempat di mana nilai-nilai sosial paling jujur diekspresikan. Ruang privat memang tampak lebih bebas dari kontrol sosial, tetapi bukan berarti ia bebas sepenuhnya. Justru karena tidak terlihat, praktik-praktik yang terjadi di dalamnya jarang dipertanyakan. Padahal, di situlah normalisasi berlangsung. Ia membentuk cara pandang, memengaruhi perilaku, dan pada akhirnya menentukan bagaimana seseorang bertindak di ruang publik. 

Pengalaman Personal yang Tidak Jauh Berbeda

Pengalaman seperti ini bukan sesuatu yang asing bagi saya. Saat masih di SMA, saya dan dua belas siswi lainnya hampir menjadi korban perekaman diam-diam saat sedang berganti pakaian setelah pelajaran olahraga. Untungnya, kami berhasil menghentikan upaya tersebut. Namun, belakangan saya mengetahui bahwa kejadian itu bukanlah peristiwa tunggal. Ada grup yang berisi siswa laki-laki yang kerap membicarakan perempuan, mulai dari jilbab yang tidak menutupi dada, kaos kaki yang tidak menutupi mata kaki, kaos dalam yang terlihat dari luar seragam putih, hingga pembicaraan lainnya tentang perempuan. Tentang tubuh, penampilan, dan hal-hal lain yang membuat kami tidak nyaman.

Bersama beberapa teman, kami mencoba untuk menindaklanjuti temuan kami terkait grup yang membicarakan kami, para perempuan. Kami membuat survei anonim untuk mengumpulkan cerita dari siswi lain tentang pengalaman kekerasan seksual. Hasilnya menunjukkan bahwa pelaku tidak hanya berasal dari kalangan siswa, tetapi juga guru. Bentuknya beragam: dari komentar seksual, tatapan yang tidak nyaman, pengambilan foto tanpa consent, hingga sentuhan tanpa izin. Kami kemudian merencanakan untuk mengirimkan surat anonim kepada para pelaku sebagai sebuah upaya kecil untuk mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan telah melewati batas. Namun, respons yang muncul justru membuka sesuatu yang lebih dalam. Beberapa dari mereka merespons secara defensif, menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang berlebihan. Ada di antara respons itu, ada satu kalimat yang terus saya ingat:“omongan begini cuma candaan kita-kita doang, kok.”

Kalimat itu terdengar ringan. Tapi, justru di situlah letak masalahnya. Ia bukan sekadar pembelaan, melainkan legitimasi. Sebuah cara untuk mereduksi kekerasan menjadi sesuatu yang bisa ditertawakan dan diabaikan. Upaya advokasi kami tidak bisa berjalan lebih jauh. Pengiriman surat anonim itu dihentikan oleh guru BK. Poster-poster yang kami tempel di kelas diturunkan oleh guru karena dianggap mengganggu. Saya bahkan dipanggil oleh wakil kepala sekolah untuk menghentikan inisiatif tersebut. Jelas ada upaya untuk membubarkan gerakan yang kami mulai. 

Pada momen itu, saya melihat bagaimana logika yang sama bekerja di dua level. Pertama, di tingkat individu, “candaan” digunakan untuk membenarkan perilaku. Kedua, di tingkat institusi, pembungkaman dilakukan atas nama ketertiban dan reputasi. Keduanya bertemu dalam satu hal: menormalisasi dan membiarkan kekerasan terus berlangsung. Saat itu, saya mulai menyadari bahwa yang saya hadapi bukan sekadar perilaku individu, tetapi cara berpikir yang telah dianggap wajar.

Ilustrasi oleh Comrade Zakor, 2020

Ilustrasi oleh Comrade Zakor, 2020

Kekerasan Itu Di(re)produksi!

Kasus FH UI dan pengalaman saya di SMA menunjukkan pola yang sama. Kekerasan seksual tidak muncul secara tiba-tiba dan tidak berdiri sendiri. Ia diproduksi dan direproduksi melalui bahasa, melalui interaksi sehari-hari, dan melalui ruang-ruang yang dianggap tidak penting untuk dipertanyakan. Jika kita hanya fokus pada pelaku di puncak piramida, kita melewatkan pondasi yang menopangnya. Sebab, yang dianggap ringan sering kali menjadi dasar bagi yang paling berat.

Saya bisa berkesimpulan bahwa kekerasan seksual tidak langsung berasal dari tindakan, tetapi dimulai dari tawa yang dibiarkan, dari percakapan yang dianggap biasa, dan dari ruang privat yang dianggap tidak berbahaya. Lalu ketika institusi pendidikan, baik sekolah maupun kampus, tidak menunjukkan komitmen yang jelas dalam menangani kasus-kasus ini, normalisasi tersebut tidak hanya dibiarkan, tetapi justru diperkuat.

“Omongan begini cuma candaan kita-kita doang, kok” mungkin terdengar ringan. Namun, dari kalimat seperti itulah batas-batas terus digeser, rasa tidak nyaman diabaikan, dan kekerasan perlahan dinormalisasi. Saya pernah berada di situasi itu, melihat bagaimana candaan menjadi kebiasaan dan kebiasaan menjadi sesuatu yang sulit dipertanyakan. Ketika institusi yang seharusnya menjadi ruang aman justru tidak hadir, ruang-ruang itu dibiarkan tumbuh tanpa batas. Lantas, selama itu terjadi, yang disebut “candaan” tidak akan pernah benar-benar berhenti sebagai candaan. Ia akan terus menjadi pondasi bagi kekerasan yang lebih besar.

Ilustrasi oleh Comrade Zakor, 2020

Next
Next

Narasi Kebebasan dan Privilege dalam Tren “First in My Bloodline”