Aku, Masyarakat, dan Menstruasi

oleh Lidwina Nathania

Aku ingin menceritakan suatu pengalaman yang dirasakan oleh semua perempuan. Ada yang bisa menebaknya?

Ya, menstruasi.

Tulisan ini berawal dari keresahanku saat mengalami menstruasi. Seringkali beberapa perempuan menggerutu atau justru senang karena mungkin bisa menggunakan pewarna kuku atau makan banyak saat menstruasi. Sebuah keresahan bagiku setiap kali masanya menstruasi. “Takut bocor” dan serba khawatir, mendistraksi pikiranku kala sedang berkegiatan. Aku ingat sekali, persis sepekan sebelum menstruasi, aku mengalami sakit perut hingga perlu teman untuk ke pusat layanan kesehatan di dekat kampus. Aku kira asam lambungku meningkat, ternyata ini pola berulang sebelum aku menstruasi.

Aku ingat waktu sebelum aksi peringatan darurat tahun lalu dan aksi bersama petani beberapa hari yang lalu, aku mengalami menstruasi secara tiba-tiba sebagai hari pertama. Dalam kondisi di tengah medan aksi, aku harus memakai dan membeli pembalut. Aku ingat sekali saat aksi menanam bibit mangrove, aku harus memakai pembalut karena “sudah tanggalnya menstruasi”. 

Di tengah kegiatan tersebut, masyarakat seakan menganggap bahwa kita semua memiliki kondisi yang sama, jadi kegiatan akan terus berjalan. Sementara aku harus menjalankan kegiatan, tanpa perlu terlihat oleh siapapun bahwa aku sedang khawatir dengan menstruasiku.

Saat hari pertama aku menstruasi, aku seringkali menyalahkan laki-laki. Pertanyaannya selalu seperti ini, “Kenapa ya, perempuan merasakan sakit di organ dalamnya setiap bulan, sementara di sana banyak laki-laki yang seenaknya memperlakukan perempuan. Mulai dari kekerasan verbal kepada kekasihnya, ‘permainan di belakang’ dari laki-laki (ya walau tak bisa dipungkiri kalau perempuan ada yang juga seperti itu), apalagi kekerasan fisik kepada istri yang sedang mengandung ataupun yang dalam keadaan sehat?”

Pikiranku mulai liar dan memberontak saat darah terus mengalir yang membuatku ingin marah pada semua orang tapi harus tetap menjaga tindakanku.

Tak hanya itu, aku juga bertanya-tanya, “Kenapa perempuan sudah merasakan sakit sejak menstruasi, melahirkan, hingga harus menjaga ‘dirinya’ agar tak disalahkan?”

Menyebalkan.

Lalu, aku belajar memahami. Menurut laman Alodokter, pada wanita terdapat hormon yang diproduksi lebih banyak daripada laki-laki. Namanya hormon estrogen. Mengapa seperti itu? Hal ini terjadi karena hormon ini akan bekerja berkali-kali lipat untuk mendukung sistem reproduksi perempuan. Hormon ini diproduksi oleh ovarium yang memegang fungsi penting dalam pertumbuhan dan perkembangan karakteristik seksual wanita ataupun proses reproduksinya. Saat hormon ini meningkat, ‘mood’ seringkali berubah-ubah.

“Lagi-lagi, mengapa seperti itu?”

Melansir dari Liputan6, hormon estrogen memiliki efek neuroprotektif dan memengaruhi berbagai aspek fungsi otak, termasuk memori, kognisi, dan regulasi emosi. Maka dari itu, perempuan sering sulit dimengerti saat menstruasi, sebelum, maupun pasca. 

Menstruasi adalah suatu hal yang dirasakan oleh perempuan. Mereka tak bisa menolak hal tersebut. Berdasarkan pengetahuan empiris para perempuan, kekhawatiran sering terjadi saat mengalami menstruasi. Lantas, apa yang perlu masyarakat dengar dan give a respect for her?

Satu, memahami pengalaman perempuan yang belum stabil emosinya saat menstruasi. Dua, menghargai tiap langkah perempuan. Tak dapat dipungkiri, perempuan seringkali hanya sebagai “objek tatapan” bagi siapapun. Maka dibalik kekhawatiran kala menstruasi, pemahaman dan pembelajaran yang terus-menerus menjadi akar untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan.

Next
Next

Membaca Ulang Ophelia: Patah Hati dan Representasi Perempuan dari Shakespeare hingga Taylor Swift