Perempuan adalah Tentang Apa yang Tak Terutarakan
oleh Bonniela
KUTIP ARTIKEL INI / CITE THIS ARTICLE
Bonniela. “Perempuan adalah Tentang Apa yang Tak Terutarakan.” Critical Girlhood Studies, 3 April 2026. https://doi.org/10.5281/zenodo.19392952.
Women are all about the unspoken - Bonniela
Semua Yang Tak Terutarakan - Bonniela
Perempuan adalah tentang apa yang tak terutarakan.
Kalimat ini mengingatkan saya pada pengalaman bertahun-tahun silam, ketika berusia 21 tahun dan berstatus mahasiswi. Saat itu, saya membaca beberapa artikel sebagai tambahan materi kuliah, salah satunya adalah artikel yang membahas perkembangan korteks prefrontal pada otak manusia. Menurut Kolk dalam artikel berjudul “Development of Prefrontal Cortex”, perkembangan otak manusia merupakan proses evolusioner yang kompleks, ditandai dengan bertambahnya luas permukaan serta munculnya area-area baru secara sitoarsitektonik pada korteks prefrontal (prefrontal cortex/PFC), yang dianggap sebagai pusat fungsi kognitif tertinggi sekaligus salah satu bagian otak yang paling akhir matang pada manusia.
Korteks prefrontal medial (medial prefrontal cortex/mPFC) berperan penting dalam regulasi emosi dan proses kognitif, termasuk pengambilan keputusan, memori kerja dan memori jangka panjang. Perkembangan kognitif manusia, seperti bahasa dan kecerdasan, mencapai titik stabil pada masa remaja (sekitar usia 12 tahun). Kematangan kognitif ini ditandai oleh perubahan dalam interaksi sosial dan kemampuan kognitif sebagai bagian dari proses menuju kemandirian, penguasaan keterampilan dan kompetensi orang dewasa.
Memasuki usia dewasa, individu menjadi lebih peka terhadap lingkungan sosial. Tentunya perkembangan biologis tidak lepas dari konteks sosial tempat seseorang tumbuh. Jika dibahas lebih spesifik, perempuan kerap memiliki ruang yang lebih sempit dalam lingkup sosial. Dalam berbagai konteks—kelas, organisasi, maupun forum formal—memotong pembicaraan perempuan bukanlah hal yang asing.
Kau selami isi kepalanya,
kau temukan tumpukan cerita
yang tak bisa dituang,
setebal apa pun buku
hampir tak mampu memuat.
Kepada siapa harus disampaikan
kepingan hati yang bergumul,
jika bukan pada keheningan kekal
yang tak akan menghakimi
suara paraunya.
Perempuan muda, dengan perkembangan kognitif yang sedang mencapai puncaknya dan pengetahuan yang terus bertambah, pada akhirnya dapat meragukan kemampuan dirinya sendiri ketika tidak diberi ruang untuk berbicara. Lebih jauh lagi, label “emosional” masih kerap dilekatkan pada perempuan. Penilaian ini berakar dari keyakinan bahwa emosi bertentangan dengan rasionalitas, seolah keduanya tidak dapat berjalan beriringan.
Label emosional tersebut meningkatkan keraguan terhadap kemampuan seseorang untuk berpikir rasional. Akibatnya, akurasi dan ketajaman argumen yang disampaikan perempuan sering dipertanyakan, berujung pada pengabaian tanpa pertimbangan yang adil. Rasa takut dinilai negatif atau dianggap tidak kompeten pun muncul, membuat banyak perempuan memilih untuk menahan diri bahkan diam tanpa berani melibatkan diri dalam perdebatan.
Tulisan ini merupakan refleksi dari pengalaman nyata; ketika pikiran dipenuhi rasa ingin tahu yang meluap, kewaspadaan terhadap lingkungan yang tinggi serta berbagai pertanyaan, pendapat dan gagasan yang tidak dapat diutarakan secara gamblang. Namun pada akhirnya, kegelisahan tersebut menemukan jalannya sendiri yaitu melalui hobi yang tetap mengasah kognisi ketika kehidupan tidak selalu menyediakan ruang untuk bersuara.