Masak, Macak, Manak: Sebuah Dekonstruksi Konsep dalam Budaya Jawa

oleh Zahrul Praswinata

Sumber: Uncivilized

Waktu itu saya masih duduk di bangku kelas delapan SMP. Suasana pagi menyelimuti hari yang sejuk, kelas berlanjut dengan mata pelajaran matematika. Dengan khidmat, saya duduk di deretan kursi bagian tengah paling belakang. Pada suatu momen, guru pengampu menyempatkan bercerita ngalor-ngidul (obrolan yang kemana-mana). Hingga suatu ketika, terlontarkan sebuah kalimat kurang lebih, “Perempuan, tugasnya atau kodratnya adalah Masak, Macak, Manak (3M).” 

Saya sangat percaya bahwa guru mempunyai konsep digugu lan ditiru (dipercaya dan diteladani) sikap-sikapnya, dan kita harus menghormatinya. Saya juga dengan amat sangat percaya bahwa tidak semua guru harus dihormati, maupun digugu lan ditiru.

Sayangnya, saya hanya berdiam diri saja. Sementara guru tersebut terus melontarkan kalimat lanjutan, ditanggapi deraian tawa sebagian laki-laki dalam kelas, murid perempuan berdiam diri saja.

3M (masak, macak, manak)

Saya ingin mencoba menguraikan dahulu, macam-macam penyebutan atau julukan terhadap perempuan dalam budaya Jawa. Di dalam budaya Jawa, ada sebutan wanita yang terkonstruksi dari dua unsur kata: wani (berani), dan tata (teratur). Ini bisa dimaknai bahwa perempuan harus mau, suka tidak suka, diatur dalam norma-norma yang ada dalam budaya Jawa. Selanjutnya, ada juga istilah kata wadon yang terkonstruksi dari bahasa aslinya, yaitu bahasa Kawi Wadu yang memiliki arti abdi.

Dari beberapa penyebutan, atau istilah, hingga julukan yang tersemat kepada perempuan, dapat kita ketahui bahwa dalam budaya Jawa perempuan dianggap sebagai kelas kedua, alias posisinya selalu ditempatkan berada di bawah laki-laki. Dari sinilah, kita dapat menyelami lebih lanjut mengenai konsep 3M (masak, macak, manak).

Sistem patriarki yang hinggap dalam masyarakat Jawa, menempatkan posisi istri di bawah suami mereka. Istri diasosiasikan atau diibaratkan sebagai konco wingking (teman di belakang). Hal inilah yang membuat perempuan harus tunduk dan patuh mengikuti segala perkataan suami. Ini juga tercermin dalam sebuah ungkapan swarga nunut naraka katut (ikut ke surga menumpang, ke neraka terbawa). Dalam ungkapan ini timbul sebuah potret bahwa jika istri masuk surga itu hanya berkat menumpang kepada suami, sedangkan jika suami masuk neraka maka istri pun masuk neraka.

Kita perlu ingat: Perempuan tidak boleh dipandang atau dibatasi dengan konsep 3M.
— Zahrul Praswinata

Masuk ke dalam salah satu konsep 3M, yaitu masak. Ini merupakan suatu konsep yang membebankan urusan memasak dan semacamnya kepada perempuan. Bahwa perempuan bertanggung jawab terhadap pemenuhan gizi atau nutrisi, pemenuhan perut anggota keluarga utamanya suami dan anak-anaknya. Penyempitan peran memasak ini melemahkan perempuan. Urusan memasak adalah tanggung jawab bersama antar pasangan terhadap keluarga. Ini adalah sebuah ironi dan kelucuan, terutama ketika terlontarkan bahwa perempuan memang habitatnya di dapur dengan aktivitasnya memasak, yang biasanya diucapkan oleh seorang laki-laki yang bahkan tidak pernah menyentuh yang namanya dapur kecuali urusan membuat kopi dan mie rebus.

Selanjutnya, kita menemukan konsep kedua dari 3M, yaitu macak (berdandan). Konsep yang menitikberatkan perempuan selain harus memasak untuk keluarga, juga harus berdandan demi memenuhi ego dan nafsu seorang suami. Di sinilah beban mulai tampak, dengan konsep macak ini seolah-olah perempuan hanya dijadikan sebagai sebuah objek hiburan atau pemuas nafsu dan ego suami. Perempuan dituntut untuk terus berdandan yang memuaskan hati suami, konsep macak ini tidak terhenti dalam artian merias wajah, tetapi lebih kompleks mengarah kepada tubuh, hingga fantasi seksual yang diinginkan suami.

Yang ketiga adalah manak (beranak).Perempuan masih dijadikan sebagai pabrik penghasil anak. Konsep ini terlihat jelas ketika perempuan yang tidak punya anak memiliki stigma yang buruk dalam mata keluarga bahkan masyarakat. Jika ada pasangan yang menikah dan tak kunjung mempunyai anak, tebak siapa yang disalahkan? Mengapa perempuan kerap disalahkan? Mengapa mereka tidak menyalahkan suami juga? Siapa tahu suami tersebut memiliki kualitas sperma yang buruk.

Dekonstruksi Pembatasan Peran Perempuan 

Dari uraian terkait konsep 3M (masak, macak, manak) dapat kita ketahui secara jelas, bahwa konsep 3M dalam kebudayaan Jawa sangat membatasi peran perempuan dalam kacamata masyarakat Jawa.

Perempuan yang ideal wajib memenuhi 3M tersebut. Perempuan juga diharuskan mengikuti dengan amat sangat manut (patuh) konsep 3M.

Pada akhirnya, perempuan tidak jauh-jauh dari sebuah objek serta alat yang bisa diatur dan dikendalikan semaunya. Alih-alih dipandang sebagai sebuah subjek yang setara dengan laki-laki, perempuan dijadikan objek estetika (macak), dijadikan alat reproduksi (manak), dan dijadikan alat pengurus dapur (masak).

Laki-laki, dengan keuntungannya dilayani dilandasi sistem patriarki yang telah mengakar kuat dalam masyarakat, tidak hanya dalam kebudayaan Jawa. 

Kita perlu ingat: Perempuan tidak boleh dipandang atau dibatasi dengan konsep 3M. Perempuan adalah individu, subjek yang setara dengan laki-laki. Perempuan bebas dan tidak boleh dilarang melakukan kesempatan di luar konsep 3M tersebut. Perempuan mempunyai potensi berkarir, di bidang apapun, sama dengan laki-laki. Dan juga, laki-laki harus sadar bahwa konsep 3M tidak bisa dibebankan pada perempuan. Memasak adalah kemampuan individu yang tidak terikat gender, berdandan adalah kebutuhan individu tidak terikat gender juga. Laki-laki bisa berdandan, jika dia mau. Reproduksi yang bertujuan melahirkan anak, tidak bisa dilakukan secara seorang diri, ia harus dilakukan oleh dua orang dengan sel sperma dan sel telur. 

Hidup perempuan! Lawan patriarki!

Next
Next

“Omongan Begini Cuma Candaan Kita-Kita Doang, Kok”