Mencari Diri di Tengah Standar
oleh Thalita Helvi Nabilla
KUTIP ARTIKEL INI/CITE THIS ARTICLE
Nabilla, Thalita Helvi. 2026. "Mencari Diri di Tengah Standar." Critical Girlhood Studies, 26 Mei 2026. https://www.criticalgirlhoodstudies.org/article/mencari-diri-di-tengah-standar.
Photo by Pixabay from Pexels: https://www.pexels.com/photo/silhouette-of-4-women-with-the-background-of-birds-flying-under-yellow-and-grey-sky-53364/
Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa aku harus menjadi diri sendiri. Aku harus menjadi seperti apa yang aku inginkan. Patriarki membentuk cara pandang masyarakat tentang peran, nilai, dan posisi laki-laki serta perempuan. Dalam prosesnya, sistem ini menetapkan apa yang dianggap “normal” dan “ideal” dalam kehidupan sosial. Sehingga, mereka menciptakan standar. Aku merasa kebingungan dengan semua hal tentang mencintai diri sendiri. Mana yang benar? Agar diterima, aku harus melakukan hal yang semua orang inginkan. Bukankan itu bukan definisi menjadi diri sendiri?
Menjadi perempuan muda sungguh sangat melelahkan. Orang-orang dan sistem menciptakan sebuah standar yang mengatur kehidupanku. Mulai dari gaya dan cara berpakaian, model rambut, warna kulit, sampai kapan aku harus bereproduksi. Perempuan dilihat sebagai pelengkap kehidupan, bukan sebagai pemeran utama dalam kehidupan. Perempuan terasa seperti garam dalam masakan. Penting tapi hanya pelengkap.
Standar datang dari berbagai arah: mulai dari yang terdekat yaitu keluarga, lingkungan, hingga dari yang maya seperti media sosial. Hal-hal ini memunculkan konflik batin bagiku. Aku meragukan diri sendiri, memikirkan apakah aku ini layak atau tidak bagi orang lain, apakah aku ini cukup bagi orang lain. Semuanya adalah mengenai orang lain. Tidak pernah mengenai diriku sendiri. Aku rasa menjadi diri sendiri itu tidak mungkin.
Aku mendambakan kebebasan, aku ingin mengambil keputusan untuk hidupku sendiri.
Aku ingat Kartini pernah mengatakan dalam bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, “Di sepanjang masa, pelopor dalam perjuangan selalu melawan tradisi dan selalu menderita, kami semua tahu itu. Sebut saja kami gila, bodoh, apapun yang kalian suka, kami tidak bisa menahannya, karena itu mengalir dalam darah kami”.
Kata-katanya merasuki diriku. Pengalaman kecil yang aku alami mengenai ketidakadilan, ketidaksetaraan, kekerasan yang aku alami telah membuatku marah dan menjadi cambuk semangat tiada tara untuk menjalani kehidupan yang aku inginkan. Aku terlahir untuk hal yang besar. Aku terlahir untuk menjadi pemimpin atas diriku sendiri, aku terlahir sebagai pemegang keputusan atas pikiran, tubuh, dan kehidupan yang akan aku jalani. Aku tidak akan bisa diatur, didikte, ataupun di monopoli oleh orang lain.
Perlahan tapi pasti aku mengubah cara pandang terhadap kehidupanku. Tadinya aku bingung untuk menjalani kehidupan ini. Aku mulai berhenti melakukan hal yang tidak aku sukai demi memuaskan sistem dan orang lain hanya untuk diterima. Aku berhenti untuk diam saat mengalami ketidaknyamanan dan ketidakadilan. Sekarang, aku mulai bergerak. Aku mulai berbicara. Aku mulai menemukan diriku sendiri dibawah bayang-bayang standar yang mencekik.
Diriku ternyata tidak hanya sekadar perempuan yang menjadi pelengkap. Ternyata aku memiliki pemikiran, perasaan, keinginan, serta otonomi. Aku berhasil menemukan diriku seutuhnya. Namun, perjuangan masih panjang. Ternyata walaupun aku sudah menemukan diriku dan mulai berekspresi sesuai dengan keinginanku, banyak orang tidak setuju. Katanya aku melanggar standar yang ada. Baca: norma berpakaian, adat perempuan harus nurut, perempuan harus lemah lembut, perempuan harus bisa masak, perempuan harus menikah di umur maksimal 25 tahun.
Aku sangat mencintai kehidupan perempuan, namun mengapa kehidupan perempuan ini disalahpahami dan tidak dihargai? Tidakkah cukup bagi kalian jika perempuan puas dengan kehidupan yang diinginkannya? Dengan ekspresi yang dia tunjukkan mengenai identitasnya? Dengan keinginan-keinginannya?
Kehidupanku sebagai perempuan seharusnya tidak ditekan, tidak diatur, tidak didikte oleh orang lain. Perempuan adalah manusia yang utuh. Memiliki pemikiran, perasaan, dan keinginan serta otonomi. Perempuan berhak atas pendidikan, berhak atas kebebasan dan keamanan, berhak untuk bersuara dan didengar, berhak untuk mendapatkan kesempatan kerja dan upah yang setara dengan laki-laki.
Berhenti mengatur perempuan. Yang harus diperbaiki bukanlah perempuan melainkan sistemnya. Biarkan perempuan memilih dan mengatur kehidupannya sendiri.
Dan meski perjuangan ini tidaklah mudah, aku percaya setiap langkah kecil menuju diri sendiri selalu layak diperjuangkan. Di tengah riuhnya standar yang terus berubah, aku memilh untuk tetap mendengar suara kecil dalam diriku karena disanalah aku benar-benar ada.