Male Gaze, Si Juri Senyap Tubuh dan Femininitas
oleh Georgiana Maria
Sudah lebih dari seabad buku R.A. Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang” hadir menandai perjuangan melawan patriarki di Indonesia. Namun, sampai saat ini perjuangan perempuan Indonesia belum selesai. Narasi seksualitas perempuan belum sepenuhnya lepas dari bayangan lelaki.
Tumbuh besar di ibu kota Jakarta sebagai perempuan asal Indonesia Timur rasanya seperti tumbuh besar dengan ekspektasi yang tidak pernah kamu minta dan selalu jadi ‘anak itik yang buruk rupa’ di tengah standar kecantikan yang homogen.
Di era 2010-an, cantik artinya kulit putih, rambut lurus, tubuh langsing.
Standar terus bergaung selama aku remaja: di majalah, di televisi, di ruang kelas, serta di rak supermarket. Di iklan sampo, lelaki langsung jatuh cinta atau bangga mengenalkan perempuan dengan rambut terurai sempurna kepada keluarganya. Di iklan pelangsing, badan yang kecil berhasil mencuri perhatian. Di iklan lotion, kulit yang putih yang pantas mendapatkan kebaikan lelaki. Figur perempuan seperti inilah yang worthy of love and respect.
Kalau standar kecantikan ibu kota adalah mata kuliah, rasanya kulit sawo matang, badan curvy, serta rambut keritingku tidak akan pernah lolos KKM. Artinya, dalam sistem ini, aku tidak akan bisa lulus menjadi wanita ideal—atau pantas dapat treatment baik dari lingkungan.
Tapi kalau kita mau jujur dan berhenti sejenak, ada pertanyaan sederhana yang jarang ditanyakan.
Standar ini dibuat untuk siapa? Siapa yang paling diuntungkan ketika perempuan merasa belum cukup? Jawabannya bukan perempuan itu sendiri.
Inilah yang Laura Mulvey sebut sebagai male gaze. Sebuah cara pandang yang menempatkan seksualitas perempuan sebagai objek yang dilihat dan didapatkan, bukan subjek yang hidup. Male gaze bukan sekadar tatapan laki-laki atau siulan di jalanan: dia adalah narasi patriarki yang tertanam dalam struktur sosial antargenerasi, sampai kita tidak lagi sadar bahwa kita sedang menggunakannya untuk menilai diri sendiri.
Aquarini Priyatna menyebut bahwa kulit ‘putih’ di iklan produk perawatan diri Indonesia bukan cuma soal warna, tetapi juga soal representasi modernitas dan eksklusivitas. Narasi ini membuat perempuan merasa tidak pernah cukup sehingga selalu mengonsumsi produk tersebut untuk mencapai kecantikan ‘paripurna.’
Dalam konteks media Indonesia, paparan berulang terhadap representasi kecantikan perempuan Indonesia mengaburkan persepsi perempuan tentang nilai dirinya sendiri, sebuah proses yang George Gerbner namakan cultivation. Iklan shampo dan lotion itu tidak sekadar menjual produk. Mereka juga menjual gagasan bahwa nilai seorang perempuan ditentukan oleh seberapa banyak perhatian laki-laki yang berhasil ia kumpulkan.
Sandra Bartky berpendapat bahwa patriarki yang membentuk persepsi perempuan tidak lagi membutuhkan kehadiran laki-laki secara fisik. Perempuan telah menginternalisasinya begitu lama sehingga mereka mengawasi diri sendiri dan satu sama lain dengan berbagai praktik kecantikan.
Ketika remaja, aku mengenalnya dengan tren suntik putih dan rebonding rambut. Hari ini aku melihatnya di TikTok dengan tren hourglass body, glass skin, bahkan Korean rhinoplasty yang membuat perempuan fokus pada penampilan fisik, bukan kekuatan mereka.
Akhirnya, seksualitas menjadi sebuah kompetisi tak kasat mata, di mana atensi laki-laki adalah jurinya. Perempuan muda, sebagai konsumen yang tumbuh besar dalam logika itu, belajar menggunakannya sejak kecil dan berkompetisi di dalamnya ketika dewasa. Kita menggunakannya di depan cermin, di ruang kelas, di kolom sosial media, dan yang paling menyakitkan—di antara sesama perempuan.
Dalam keseharian, male gaze tidak selalu hadir secara fisik sebagai laki-laki. Dari pengalamanku, ia juga hadir sebagai seorang teman perempuan.
Aku ingat betul sebuah percakapan dengan seorang teman perempuan di masa kuliah. Kami sedang duduk santai setelah kelas sambil melihat mahasiswa yang lalu-lalang, lalu teman tadi melempar sebuah argumen bahwa ada dua tipe perempuan cantik di kampus: cantik versi perempuan dan cantik versi laki-laki.
Dia memasukkan aku ke kategori pertama. Alasannya, fitur wajahku tipe yang disukai perempuan. Bukti argumennya adalah jumlah teman perempuanku lebih banyak dibandingkan teman laki-laki. Menurutnya, wajah yang manis kurang disukai laki-laki sehingga sulit diingat, apalagi mendapat pacar.
Ia lalu mulai membandingkan perempuan yang ia anggap “cantik versi laki-laki” yang ditandai dengan mata sayu, wajah tirus, rambut panjang, dan badan langsing. Ia menamai fitur-fitur inilah yang ‘seksi’ bagi lawan jenis.
Lalu dia bertanya, “Kalau menurut lo, muka gue menggoda gak sih di mata cowok?” Aku diam, tidak bisa menjawab.
Pernyataan dan pertanyaannya terasa absurd. Yang mengusik bukan klasifikasinya, tapi betapa naturalnya ia mengucapkan itu di usia yang baru 18 tahun, usia yang sangat muda. Betapa kami berdua, dua perempuan yang baru mulai membangun diri, sudah begitu fasih berbicara dalam bahasa yang bukan milik kami.
Juri itu tidak duduk di bangku kampus sore itu. Tapi ia sudah lama tinggal di dalam kami, diam-diam di sudut tergelap, tersepi di kepala. Hari itu, pertama kali saya menyadari kehadirannya. Hari ini, saya memberanikan diri untuk mengonfrontasinya.
Awareness bukan hal yang mudah, tapi ia adalah langkah pertama yang nyata untuk memutus siklus.
Menyadari bahwa standar kecantikan yang kita internalisasi tidak lahir dari keinginan kita sendiri adalah bentuk perlawanan—kecil, tapi bermakna.
Male gaze di permukaan mungkin hanya terlihat seperti komentar fisik atau representasi perempuan di iklan. Tetapi lebih dalam, ia adalah fondasi budaya yang menormalisasi perempuan sebagai objek, sehingga batas antara ‘melihat’ dan ‘mengambil’ menjadi kabur. Normalisasi itulah yang membuka pintu bagi kekerasan yang lebih besar, dari catcalling hingga pelecehan seksual yang dianggap wajar karena "perempuan itu memang minta dilihat."
Selama perempuan masih menilai dirinya dengan mata laki-laki, ia sedang memelihara sistem yang tidak pernah berpihak kepadanya. Ketika kita melawan narasi male gaze dan berhenti bertanya apakah aku cukup menarik di mata mereka dan mulai bertanya apa yang sebenarnya aku inginkan untuk diriku sendiri, kita sedang memutus rantai kekerasan itu.
Aku percaya bahwa nilai perempuan jauh lebih besar dari seksualitasnya. Karakter, bukan penampilan semata, yang membuat kita bertahan dan maju. Perempuan yang mampu mendefinisikan kecantikannya sendiri untuk dirinya sendiri itulah perempuan yang paling sulit dijangkau oleh juri yang diam itu.