Basa-Basi yang Mengabaikan Trauma: Melajang sebagai Self-Preservation
oleh Anatasia Wahyudi
Dalam sebuah obrolan santai, saya mendengar teman-teman dekat melemparkan pertanyaan klise kepada salah satu sahabat kami yang usianya masih di bawah 30 tahun: “Kenapa belum punya pacar?” atau “Kapan nih menyusul ke pelaminan?”. Menangkap keresahan yang mulai membayang di wajahnya, saya langsung memotong dengan seloroh protektif, “Nggak usah. Ntar kalau kamu punya pasangan, nggak bisa main lagi sama gue.” Komentar saya mungkin terdengar seperti candaan biasa, namun di baliknya ada kesadaran penuh bahwa desakan-desakan kasual seperti itu sering kali mengabaikan ketakutan tersembunyi yang dimiliki perempuan muda di bawah usia tiga puluh tahun; ketakutan akan melihat kekacauan domestik di lingkungan sekitar yang justru menumbuhkan trauma baru di kepala mereka.
Ironisnya, sementara sahabat saya yang lebih muda ditekan untuk segera memulai, saya sendiri yang kini menginjak usia 34 tahun sering kali menerima komentar dari sudut pandang yang berbeda. Seseorang pernah berkata kepada saya bahwa saya harus segera dicarikan laki-laki, agar tidak "menjanda kelamaan." Narasi ini seolah menempatkan status lajang atau orang tua tunggal di usia kepala tiga sebagai sebuah ruang tunggu yang menyedihkan dan memiliki masa kedaluwarsa yang harus buru-buru diakhiri.
Keresahan nyata dari percakapan sehari-hari dan komentar yang saya terima itulah yang membuat lembar-lembar halaman dari buku Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah karya Wanda Roxanne Ratu Pricillia terasa begitu mengusik saat saya membacanya kembali. Buku tersebut dengan jeli membedah bagaimana tuntutan sosial sering kali mendesak perempuan—baik mereka yang menjadi orang tua tunggal maupun yang masih lajang—untuk segera menikah kembali atau mencari pasangan. Desakan yang datang bertubi-tubi itu sepenuhnya buta terhadap kesiapan finansial, kestabilan emosional, rencana masa depan, atau bahkan proses penyembuhan trauma yang sedang diperjuangkan oleh seseorang di balik ruang sunyinya.
Secara pribadi, saya selalu memegang prinsip hidup yang sederhana: saya enggan mengomentari, apalagi mencampuri keputusan domestik orang lain. Selama pilihan hidup seseorang tidak merugikan diri saya atau publik, saya benar-benar memilih untuk tidak peduli. Namun, di masyarakat kita, kedaulatan seorang perempuan atas lini masa hidupnya sendiri tampaknya masih menjadi barang mewah. Masyarakat kita begitu gagap menerima perempuan yang bahagia dan mandiri tanpa pasangan, sehingga mereka buru-buru menyodorkan saran naif seperti, “Kenalan dulu saja.” Mereka lupa bahwa fase perkenalan adalah panggung sandiwara terbaik bagi para manipulator. Fenomena love bombing mengaburkan kenyataan; awalnya segalanya terasa manis, namun begitu ikatan hukum terikat dan topeng itu terlepas (mask dropping), situasi seketika berubah menjadi neraka jahanam.
Keengganan untuk melompat ke dalam komitmen besar tanpa kalkulasi matang di usia kepala tiga bukanlah sebuah sinisme tanpa dasar. Secara biologis dan psikologis, pilihan ini justru sangat selaras dengan kematangan perkembangan manusia. Laporan ilmiah di jurnalNature Communications mengenai titik balik topologis otak manusia mengungkapkan bahwa otak kita melewati fase perkembangan non-linear yang panjang, di mana titik balik paling radikal justru terjadi di sekitar usia 32 tahun—menandai berakhirnya era transisi remaja dan dimulainya struktur otak dewasa yang stabil. Di usia 34 tahun, keputusan hidup saya tidak lagi diambil berdasarkan letapan emosi atau ketakutan akan kesepian, melainkan didasari oleh kestabilan kognitif dan kemandirian berpikir yang utuh.
Kedewasaan ini pula yang memaksa kita melihat realitas sosial secara lebih objektif dan berjarak. Berdasarkandata resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai angka pernikahan dan perceraian, Indonesia mencatat lebih dari 438.000 kasus perceraian dalam setahun, di mana mayoritas mutlaknya—lebih dari 346.000 kasus—adalah cerai gugat yang diajukan oleh pihak perempuan. Angka ini adalah alarm keras bahwa ratusan ribu rumah tangga di luar sana sedang tidak baik-baik saja. Banyak perempuan terpaksa bertahan dalam hubungan yang toksik dan merusak mental hanya demi status sosial atau karena belum memiliki kemandirian finansial untuk melangkah pergi.
Kenyataan pahit ini dipertegas olehdata dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mengenai kerentanan perempuan dan anak, yang menunjukkan bahwa ruang domestik atau rumah sering kali berubah menjadi lokasi utama terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ketika institusi yang diagung-agungkan masyarakat sebagai lambang "kesempurnaan hidup" justru menyimpan risiko bahaya yang begitu tinggi, memilih untuk melajang dengan tenang dan bersikap sangat selektif adalah bentuk perlindungan diri (self-preservation) yang paling logis. Atas dasar risiko emosional yang masif ini pula, saya pribadi memilih membatasi diri untuk tidak menjadi mak comblang atau menjodoh-jodohkan teman; karena ketika hubungan tersebut berakhir toksik, ada beban moral dan tanggung jawab yang ikut terseret ke dalam ruang hidup kita.
Menolak tunduk pada ekspektasi sosial yang keliru membawa saya pada esensi dari lagu "That’s My Girl" oleh Fifth Harmony dan "Power" oleh Little Mix. Lagu-lagu ini bukan sekadar musik pop pengisi waktu luang, melainkan sebuah anthem tentang bagaimana seorang perempuan yang pernah dijatuhkan oleh keadaan atau masa lalu (“you've been hurt before”) memilih untuk bangkit dan membangun kemandirian seutuhnya (“get mad independent”). Kekuatan sejati muncul ketika kita sepenuhnya menyadari nilai diri sendiri (“know your worth”) dan mengambil kemudi penuh atas kehidupan (“I'm the one who's in control”).
Di usia 34 tahun, fokus hidup saya telah terkunci dengan sangat kokoh: meniti karier, mengasuh anak dengan ruang kasih sayang yang aman, dan mempersiapkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti studi S3 dalam beberapa tahun ke depan. Kebahagiaan dan kepuasan hidup yang hakiki justru saya temukan ketika energi emosional, waktu, dan finansial dialokasikan untuk investasi jangka panjang yang konstruktif, bukan untuk meredam desakan orang luar yang ketakutan melihat saya "menjanda kelamaan."
Masyarakat harus belajar untuk berhenti mendorong seseorang ke tempat yang bahkan belum pasti bukan neraka. Sungguh sebuah ironi yang egois ketika lingkungan sekitar begitu agresif mendikte keputusan hidup orang lain, namun bersembunyi paling awal ketika keputusan tersebut berujung pada penderitaan atau trauma.
Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah sebuah produk massal yang bentuknya harus seragam. Menjadi lajang, menjadi orang tua tunggal, atau memilih jalan hidup apa pun yang berbeda dari mayoritas bukanlah sebuah "masalah" yang harus segera diperbaiki oleh komentar orang lewat. Sebab kita semua tahu, ketika badai dalam kehidupan itu datang dan hubungan yang dipaksakan itu runtuh, mereka yang paling vokal mendesak kita untuk menikah tidak akan pernah ikut bertanggung jawab atau mengulurkan tangan untuk membantu. Saya bahagia dengan pilihan hidup saya saat ini, dan sudah saatnya kita semua belajar untuk membiarkan setiap orang bertumbuh dengan caranya sendiri, tanpa perlu dibikin pusing oleh ekspektasi yang keliru.