Bebas, Tapi Lelah: Catatan Seorang Perempuan Muda
oleh Lapia Kunchay
Ibu saya pernah bercerita bahwa ia tidak ada pilihan untuk bisa bersekolah di kota impiannya karena ia seorang perempuan. Ia dibesarkan dengan empat saudari perempuannya dari didikan seorang ayah yang percaya bahwa laki-laki adalah pusat, sementara perempuan cukup berada di belakang, menyesuaikan, mengalah, dan menerima. Hingga terpatri dipikirannya bahwa perempuan memang harus begitu adanya, melayani adalah bentuk kebaktian dan memilih bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan oleh perempuan.
Saya tumbuh dengan cerita itu. Sampai saya akhirnya sadar bahwa saya tidak lagi hidup di zaman itu. Pilihan dan keputusan harus berakar dari saya sendiri. Saya adalah individu mandiri yang berhak atas hidupnya sendiri, yang berhak memutuskan pendidikan yang ingin dikenyam, cara hidup yang ingin dijalani, kota mana yang ingin dijajaki tanpa harus meminta izin pada ketentuan dan ketakutan yang diwariskan oleh masa lalu.
Kebebasan yang dahulu terasa mustahil bagi banyak perempuan kini menjadi sesuatu yang nyaris dianggap biasa. Setidaknya di atas kertas, kami memiliki hak untuk menentukan hidup kami sendiri.
Kebebasan ternyata tidak selalu datang dengan keringanan
Generasi ibu saya lelah karena terlalu sedikit pilihan. Generasi saya sering kali lelah karena terlalu banyak pilihan. Dan lebih dari itu, karena tuntutan untuk berhasil dalam semua pilihan tersebut sekaligus.
Perempuan muda di masa kini tidak lagi hanya diminta menjadi istri yang baik atau ibu yang baik. Kami juga didorong untuk menjadi individu yang mandiri, berpendidikan tinggi, berkarier cemerlang, memiliki kestabilan finansial, menjaga kesehatan mental, merawat relasi sosial, membangun keluarga yang harmonis, dan tetap terlihat mampu mengendalikan semuanya.
Pada titik tertentu, kebebasan yang diperjuangkan berubah menjadi daftar peran yang harus dijalankan secara bersamaan.
Kami diberi kesempatan untuk bekerja, tetapi tetap diharapkan menjadi pengelola utama rumah tangga. Kami didorong untuk mengejar karier, tetapi masih sering dinilai dari seberapa baik kami menjalankan peran domestik. Kami diajarkan untuk mandiri, tetapi tetap diharapkan selalu tersedia untuk kebutuhan orang lain.
Perempuan muda sering kali hidup dalam peran ganda, bahkan peran yang berlapis-lapis. Di kantor kami dituntut profesional, kompeten, dan produktif. Di rumah kami diharapkan hangat, sabar, dan penuh perhatian. Di tengah masyarakat kami diminta menjadi perempuan yang cukup kuat untuk bertahan, tetapi tidak terlalu kuat hingga dianggap mengintimidasi. Kami terus bergerak dari satu peran ke peran lain, sering kali tanpa ruang yang cukup untuk sekadar beristirahat sebagai diri sendiri.
Ironisnya, semua itu terjadi di tengah narasi bahwa perempuan kini telah bebas.
Padahal kebebasan tidak selalu berarti beban berkurang. Kadang-kadang kebebasan hanya berarti kita kini memiliki hak untuk memilih beban mana yang ingin kita pikul.
Mungkin itulah paradoks menjadi perempuan muda saat ini, Kita memiliki lebih banyak ruang untuk menentukan hidup, tetapi juga lebih banyak ekspektasi yang harus dipenuhi. Kita dapat memilih jalan sendiri, tetapi sering kali tetap membawa standar lama dan tuntutan baru di kedua bahu kita sekaligus.
Dan ketika saya merasa lelah, saya kembali memikirkan ibu saya. Sebab Ia hidup pada masa ketika perempuan tidak diberi banyak pilihan dan saya hidup pada masa ketika perempuan memiliki lebih banyak pilihan. Namun ternyata di antara kami ada benang merah yang sama yaitu sama-sama berjuang untuk menemukan ruang bagi diri sendiri di tengah tuntutan zaman yang terus berubah.
Perbedaannya, ibu saya berjuang untuk mendapatkan hak memilih. Sementara saya berjuang untuk menerima bahwa saya tidak harus memilih semuanya.
Menjadi perempuan yang berhasil tidak berarti harus unggul dalam setiap peran. Bahwa nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh seberapa banyak beban yang sanggup ia tanggung. Dan bahwa terkadang, bentuk kebebasan yang paling sulit adalah memberi izin kepada diri sendiri untuk berhenti sejenak, meletakkan sebagian tuntutan, lalu berkata: “aku tidak harus menjadi segalanya untuk semua orang.”
Pada akhirnya kebebasan bukan hanya tentang memiliki pilihan. Kebebasan juga tentang hak untuk menentukan batas dan waras. Tentang keberanian kita sebagai perempuan untuk berkata cukup. Dan tentang kesempatan untuk hidup sebagai manusia yang utuh, bukan sekadar kumpulan peran yang terus-menerus dituntut untuk sempurna. Sehingga dengan apapun pilihan yang kita buat pastikan pilihan-pilihan tersebut didasari oleh penerimaan dan kemampuan diri.